Jumat, 30 Januari 2015

SAGULUNG KOTA RW 007: MELIHAT SESUATU SECARA OBYEKTIF

Suatu hari seorang ayah menyuruh anak-anaknya untuk pergi ke hutan melihat sebuah pohon Pir diwaktu yg berbeda...

Anak ke 1 disuruhnya pergi pada musim DINGIN,

Anak ke 2 pada musim SEMI,



Anak ke 3 pada musim PANAS, dan

Anak ke 4 pada musim GUGUR.

Anak 1 : pohon pir itu tampak sangat jelek & batangnya bengkok.

Anak 2 : pohon itu dipenuhi kuncup-kuncup hijau yg menjanjikan.

Anak 3 : pohon itu dipenuhi dengan bunga-bunga yg menebarkan bau yg harum.

Anak 4 : ia tidak setuju dengan saudaranya, ia berkata bahwa pohon itu penuh dengan buah yg matang & ranum.

Kemudian sang ayah berkata bahwa kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yg berbeda.

Ayahnya berpesan :

“Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yg sulit.”


Ketika kita sedang mengalami masa-masa sulit, segalanya terlihat tidak
menjanjikan, banyak kegagalan & kekecewaan, jangan cepat menyalahkan
diri & orang lain bahkan berkata bahwa kita tidak mampu, bodoh
& bernasib sial..

Ingatlah, kita adalah makhluk paling berharga dan sempurna di mata TUHAN, tidak ada istilah “nasib sial” bagi orang percaya!

Kerjakan yg menjadi bagian kita & percayalah TUHAN akan mengerjakan bagian-Nya…

sahabatku...


Jika kita tidak bersabar ketika berada di musim dingin, maka kita akan
kehilangan musim semi & musim panas yg menjanjikan harapan, &
kita tidak akan menuai hasil di musim gugur.

“Kegelapan malam tidak seterusnya bertahan, insya Allah esok akan datang fajar yg mengusir kegelapan.”

Bersama Alloh SWT selalu ada harapan yg baru. Insya Alloh

Selasa, 27 Januari 2015

31 Manfaat Menikah

Menikah adalah perintah Allah Ta’alaa dan sunnah Rasulullah Saw. Dijanjikan pahala yang amat besar agi siapa yang menjalankannya. Menikah disebut sebagai perjanjian yang agung di dalam Kitab Suci al-Qur’an. Bahkan saat terucap ijab qabul, ‘Arsy Allah Ta’alaa bergetar karena besarnya perjanjian dalam pernikahan. Sayangnya, meski menikah sudah amat jelas landasan syariatnya, banyak yang masih ragu untuk menjalankannya. Keraguan ini disebabkan banyak hal; mulai yang logis hingga dibuat-buat. Pasalnya, menikah tak serumit yang dibayangkan. Karena, menikah adalah ibadah dan siapa yang menjalankannya, Allah Ta’alaa akan menolongnya. Oleh karenanya, diperlukan banyak kajian tentang apa saja tujuan menikah. Harapannya, akan banyak yang bersegera dan berniat untuk membuktikannya. Meskipun, kaidah utamanya akan tetap berlaku: sebanyak apa pun riset dan teori akan sia-sia jika tidak dilakukan. Karena ilmu hanya terasa manfaatnya setelah bertranformasi menjadi amal shaleh. Maka, dari 31 poin manfaat menikah yang kami rilis ini, memungkinkan untuk terus bertambah. Dan, hanya bisa dirasakan oleh anda yang sudah menikah. 1. Melakukan perintah Allah Ta’alaa 2. Meneladani Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam 3. Mengolah rasa 4. Membentuk pola pikir yang lebih baik 5. Memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis 6. Menjumpai sahabat sejati dalam setiap kondisi 7. Menyalurkan cinta dan kasih sayang 8. Mendapatkan surga dunia 9. Memperbanyak peran; istri atau suami, ibu atau bapak dan menantu 10. Menghalau sepi 11. Berbagi 12. Menyempurnakan separuh agama 13. Obat rindu 14. Menyatukan sayap untuk terbang bersama ke surga 15. Belajar menjadi orang tua yang bertanggung jawab 16. Memperbanyak keturunan 17. Bahagia dunia dan akhirat 18. Tidak mati dalam keadaan membujang 19. Mendapatkan pelindung dan melindungi 20. Menambah saudara 21. Membahagiakan orang tua dan keluarga 22. Menjaga diri dari dosa dan maksiat 23. Mendapatkan rasa aman dari fitnah 24. Membumi hanguskan galau 25. Ada sosok yang mengingatkan saat lalai 26. Memperluas dan memperbanyak peluang mendapatkan pahala dari hal kecil hingga besar 27. Menggapai ridha Allah Ta’alaa melalui ridha orang tua dan pasangan hidup 28. Melengkapi kekosongan hati 29. Mendapatkan kesehatan 30. Menggapai bahagia 31. Mendapatkan karunia kaya secara materi dan psikis Kira-kira, poin ke berapakah yang sudah dirasakan oleh sahabat..???

Ceramah Singkat: Cara Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan - Ustadz Abdurra...

Menyejukkan Pandangan Suami

Menyejukkan Pandangan Suami Rasulullah saw bersabda, “Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu.”(HR Muslim dan Ahmad). ��Oleh karena itu, jadilah seorang istri yang dapat menyejukkan mata suaminya, berhias dan berpenampilan indah saat di hadapan suami. Bukan sebaliknya. Di rumah bersama suami hanya sekedarnya, sedangkan saat keluar rumah justru bersolek memperindah diri. Menyejukkan Pandangan Suami. Rasulullah saw bersabda, “Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu.”(HR Muslim dan Ahmad). Oleh karena itu, jadilah seorang istri yang dapat menyejukkan mata suaminya, berhias dan berpenampilan indah saat di hadapan suami. Bukan sebaliknya. Di rumah bersama suami hanya sekedarnya, sedangkan saat keluar rumah justru bersolek memperindah diri.

Masalah Yang Sering Dialami Pasangan Muda

Kerikil Kecil Tak Cukup Tuk Hentikan Langkah Kata orang masa-masa bulan madu hanya akan bertahan tak lebih dari satu bulan setelah acara pernikahan. Karena setelah itu pasangan pengantin baru akan dihadapkan pada realita kehidupan berumah tangga yang pastinya penuh liku. Realita yang harusnya telah dipahami oleh setiap pasangan yang akan memutuskan untuk menikah. Pernikahan harusnya dipahami bukan hanya sekedar ritual menyatukan dua orang yang saling mencintai. Melainkan merupakan jejak awal dalam perjalanan kehidupan yang akan dilalui bersama. Permasalahan diyakini pasti akan terjadi sepanjang usia pernikahan. Permasalahan harus ditempatkan sebagai ujian yang memang harus dijalani bersama oleh pasangan suami istri. Selayaknya ujian di sekolah, jika berhasil melewati ujian itu mereka akan berada di tingkatan yang lebih tinggi dalam memahami sebuah pernikahan. Namun, jika tidak maka harus dipertanyakan kembali keberadaan keduanya dalam sebuah ikatan pernikahan. Bukan berarti pernikahan itu gagal, tetapi harus kembali direnungkan tentang tujuan awal pernikahan mereka. Dan bagi saya, segala hal yang berkaitan dengan menghadapi ujian-ujian dalam pernikahan tidak dimulai setelah malam resepsi pernikahan atau menunggu masa-masa bulan madu berakhir. Melainkan jauh sebelum saya dan suami memutuskan untuk menikah. Kami berusaha menyatukan visi tentang pernikahan yang kami inginkan. Dan membahas segala sesuatu berkaitan dengan rencana pernikahan, misal tentang jumlah anak, jaminan kesehatan dan pendidikan bagi anak dan anggota keluarga lainnya, kesepakatan tentang peranan masing-masing, dan lain sebagainya. Hingga pada saat kami benar-benar memasuki gerbang pernikahan. Kami berdua benar-benar yakin dengan apa yang telah kami rencanakan. Saya dan suami yakin kami pasti dapat melalui ujian sekecil apapun. Namun, manusia memang hanya bisa berencana namun Allah SWT yang akan memutuskan. Sesempurna apapun rencana yang telah kami susun masih tidak dapat membebaskan kami dari ujian. Masalah yang muncul di masa-masa awal pernikahan kami lebih banyak dikarenakan keegoisan masing-masing. Sama-sama masih muda yang memiliki emosi yang cenderung meledak-ledak. Masalah-masalah yang kami hadapi cenderung masalah-masalah yang sepele, semisal suami yang janji akan pulang untuk makan siang di rumah ternyata batal karena kesibukan. Atau tentang kebiasaan-kebiasaan yang baru kami ketahui satu sama lain setelah kami menikah. Karena kami sadari masa-masa awal pernikahan adalah saatnya untuk penyesuaian diri satu sama lain. Banyak hal yang harus dikompromikan. Meskipun di atas kertas kami sudah pernah mendiskusikan perihal kehidupan pernikahan tetap saja muncul kejutan-kejutan kecil yang baru kami tahu setelah menjalaninya. Kejutan yang terkadang menimbulkan konflik-konflik kecil dalam keseharian kami. Saya dan suami memahami semua permasalahan yang hadir di masa awal pernikahan kami adalah sebagai sebuah proses yang akan membentuk kami menjadi pasangan yang lebih solid nantinya. Paling tidak hingga kini, saya dan suami masih percaya visi yang kami pancangkan sebelum pernikahan kami dan segala permasalahan yang hadir selama pernikahan kami adalah sebuah proses yang harus dilalui berdua. Seberat apapun permasalahan yang nantinya akan kami lalui, selama kami masih memegang komitmen yang kami bangun berdua, semua tidak akan berat untuk dilalui.

Rabu, 21 Januari 2015

Perjanjian Pra Nikah Dibacakan Saat Akad Nikah

HOTTTTT .....Izinkanlah Aku Menikahimu, Bimbingan dan Bekal Pernikahan

Agar Pertengkaran Suami Istri Tidak Berujung Cerai

Agar Pertengkaran Suami Istri Tidak Berujung Cerai Selasa, 5 Februari 2013 13:26 WIB + Share Agar Pertengkaran Suami Istri Tidak Berujung Cerai Istimewa Hubungan tak harmonis. Menurut Melody Brooke, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi juga penulis "The Blame Game", ada dua hal yang menggagalkan perkelahian intens: mengakui apa yang dilakukan untuk membuat pasangan berdecak kagum dan ekspresikan empati terhadap pasangan. Brooke mengakui ini adalah hal yang sulit namun biasanya sangat sukses diterapkan. "Membiarkan pertahanan kita turun dalam panasnya pertempuran nampaknya berlawanan dengan intuisi, namun sebenarnya sangat efektif terhadap pasangan." Temukan humor Pamela Bodley yang telah menikah 23 tahun, mengakui jika tak mudah menjalani pernikahan di tahun-tahun awal. "Namun itu akan menjadi sangat jauh lebih baik ke depan. Ini karena kami memiliki rasa humor.." Bodley mengakui, suaminya Paulus telah menceriakan suasana hati dengan melontarkan humor di setiap kesempatan. Diam dan sentuh. Brooke mengatakan, ada titik di mana membahas masalah yang menjadi topik perselisihan tidak membantu. Terkadang pasangan hanya perlu berpelukan satu sama lain ketika tidak ada lagi yang bisa dipertemukan. "Terkoneksi kembali dengan sentuhan ini sangatlah penting."

Wajib Dihindari dalam Pertengkaran Rumah Tangga

3 Hal Yang Wajib Dihindari dalam Pertengkaran Rumah Tangga Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Pertengkaran dalam rumah tangga, salah satu diantara pertanyaan yang banyak masuk melalui situs KonsultasiSyariah.com. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan untuk menuju yang lebih baik. Pertengkaran dalam rumah tangga, hampir pernah terjadi dalam semua keluarga. Tak terkecuali keluarga yang anggotanya orang baik sekalipun. Dulu keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma, juga pernah mengalami semacam ini. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Fatimah radhiyallahu ‘anha, dan beliau tidak melihat Ali di rumah. Spontan beliau bertanya: “Di mana anak pamanmu?” ‘Tadi ada masalah dengan saya, terus dia marah kepadaku, lalu keluar. Siang ini dia tidak tidur di sampingku.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. ‘Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur.’ Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke masjid, dan ketika itu Ali sedang tidur, sementara baju atasannya jatuh di sampingnya, dan dia terkena debu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu itu, sambil mengatakan, قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ “Bangun, wahai Abu Thurab… bangun, wahai Abu Thurab…” (HR. Bukhari 441 dan Muslim 2409) Tentu tidak ada apa-apanya ketika keluarga kita dibandingkan dengan keluarga Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma. Meskipun demikian, pertengkaranpun kadang terjadi diantara mereka. Sebagaimana semacam ini juga terjadi di keluarga kita. Hanya saja, pertengkaran yang terjadi di keluarga yang baik sangat berbeda dengan pertengkaran yang terjadi di keluarga yang tidak baik. Apa Bedanya? Keluarga yang tidak baik, mereka bertengkar tanpa aturan. Satu sama lain saling menguasi dan saling mendzalimi. Setitikpun tidak ada upaya untuk mencari solusi. Yang penting aku menang, yang penting aku mendapat hakku. Tak jarang pertengkaran semacam ini sampai menui caci-maki, KDRT, atau bahkan pembunuhan. Berbeda dengan keluarga yang baik, sekalipun mereka bertengkar, pertengkaran mereka dilakukan tanpa melanggar aturan. Sekalipun mereka saling sakit hati, mereka tetap menjaga jangan sampai mendzalimi pasangannya. Dan mereka berusaha untuk menemukan solusinya dari pertengkaran ini. Umumnya sifat semacam ini ada pada keluarga yang lemah lembut, memahami aturan syariat dalam fikih keluarga, dan sadar akan hak dan kewajiban masing-masing. Semua Jadi Pahala Apapun kesedihan yang sedang kita alami, perlu kita pahami bahwa itu sejatinya bagian dari ujian hidup. Sebagai orang beriman, jadikan itu kesempatan untuk mendulang pahala. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641). Pahami bahwa bisa jadi pertengkaran ini disebabkan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian Allah memberikan hukuman batin dalam bentuk masalah keluarga. Di saat itu, hadirkan perasaan bahwa Allah akan menggugurkan dosa-dosa anda dengan kesedian yang anda alami…lanjutkan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Umar bin Abdul Aziz mengatakan, مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلَّا بِذَنْبِ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةِ “Musibah turun disebabkan dosa dan musibah diangkat dengan sebab taubat.” (Majmu’ Fatawa, 8/163) 3 Hal Yang Harus Dihindari dalam Pertengkaran Rumah Tangga Selanjutnya, ada 3 hal yang wajib dihindari ketika terjadi pertengakaran. Semoga dengan menghindari hal ini, pertengkaran dalam keluarga muslim tidak berujung pada masalah yang lebih parah. Secara umum, aturan ini telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Hakim bin Muawiyah Al-Qusyairi, dari ayahnya, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban suami kepada istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت “Kamu harus memberi makan kepadanya sesuai yang kamu makan, kamu harus memberi pakaian kepadanya sesuai kemampuanmu memberi pakaian, jangan memukul wajah, jangan kamu menjelekannya, dan jangan kamu melakukan boikot kecuali di rumah.” (HR. Ahmad 20011, Abu Daud 2142 dan dishahihkan Al-Albani). Hadis ini merupakan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para suami. Meskipun demikian, beberapa larangan yang disebutkan dalam hadis ini juga berlaku bagi wanita. Dari hadis mulia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan untuk menghindari 3 hal: Pertama, hindari KDRT Dalam Al-Quran Allah membolehkan seorang suami untuk memukul istrinya ketika sang istri membangkang. Sebagaimana firman Allah di surat An-Nisa: وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا Wanita-wanita yang kamu khawatirkan tidak tunduk, nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..(QS. An-Nisa: 34) Namun ini izin ini tidak berlaku secara mutlak. Sehingga suami bebas melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan lain tentang izin memukul, 1. Tidak boleh di daerah kepala, sebagaimana sabda beliau, “jangan memukul wajah.” Mencakup kata wajah adalah semua kepala. Karena kepala manusia adalah hal yang paling penting. Ada banyak organ vital yang menjadi pusat indera manusia. 2. Tidak boleh menyakitkan Batasan ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah beliau ketika di Arafah. إِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ “Jika istri kalian melakukan pelanggaran itu, maka pukullah dia dengan pukulan yang tidak menyakitkan.” (HR. Muslim 1218) Keterangan ini juga disebutkan Al-Bukhari dalam shahihnya, ketika beliau menjelaskan firman Allah di surat An-Nisa: 34 di atas. Atha’ bin Abi Rabah pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, قلت لابن عباس : ما الضرب غير المبرح ؟ قال : السواك وشبهه يضربها به Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pukulan yang tidak menyakititkan?’ Beliau menjawab, “Pukulan dengan kayu siwak (sikat gigi) atau semacamnya.” (HR. At-Thabari dalam tafsirnya, 8/314). Termasuk makna pukulan yang tidak menyakitkan adalah pukulan yang tidak meninggalkan bekas, seperti memar, atau bahkan menimbulkan luka dan mengeluarkan darah. Karena sejatinya, pukulan itu tidak bertujuan untuk menyakiti, tapi pukulan itu dalam rangka mendidik istri. Namun, meskipun ada izin untuk memukul ringan, tidak memukul tentu jauh lebih baik. Karena wanita yang lemah bukanlah lawan yang seimbang bagi lelaki yang gagah. Anda bisa bayangkan, ketika ada orang yang sangat kuat, mendapatkan lawan yang lemah. Tentu bukan sebuah kehormatan bagi dia untuk meladeninya. Karena itu, lawan bagi suami yang sesunguhnya adalah emosinya. Suami yang mampu menahan emosi, sehingga tidak menyikiti istrinya, itulah lelaki hebat yang sejatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ “Orang yang hebat bukahlah orang yang sering menang dalam perkelahian. Namun orang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.” (HR. Bukhari 6114 dan Muslim 2609). Seperti itulah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. A’isyah menceritakan, مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul wanita maupun budak dengan tangan beliau sedikitpun. Padahal beliau berjihad di jalan Allah. (HR. Muslim 2328). Maksud pernyataan A’isyah, “Padahal beliau berjihad di jalan Allah” untuk membuktikan bahwa sejatinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang pemberani. Beliau pemberani di hadapan musuh, bukan pemberani di hadapan orang lemah. Beliau tidak memukul wanita atau orang lemah di sekitarnya. Karena memukul orang lemah bukan bagian dari sifat ‘pemberani’. Kedua, Hindari Caci-maki Siapapun kita, tidak akan bersedia ketika dicaci maki. Karena itulah, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang didzalimi. Syariat membolehkan orang yang didzalimi itu untuk membalas kedzalimannya dalam bentuk cacian atau makian. Allah berfirman, لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. (An-Nisa: 148) Setidaknya, ketika dia tidak mampu memberi balasan secara fisik, dia mampu membalas dengan melukai hati orang yang mendzaliminya. Dalam ikatan rumah tangga, syariat memotivasi kaum muslimin untuk menciptakan suasana harmonis. Sehingga sampaipun terjadi masalah, balasan dalam bentuk caci maki harus dihindarkan. Karena kalimat cacian dan makian akan menancap dalam hati, dan bisa jadi akan sangat membekas. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa mengobatinya. Jika semacam ini terjadi, sulit untuk membangun keluarga yang sakinah. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orang tua, yang umumnya bukan bagian dari masalah. Beliau bersabda, “jangan kamu menjelekannya” Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan, لَا تَقُلْ لَهَا قَوْلًا قَبِيحًا وَلَا تَشْتُمْهَا وَلَا قَبَّحَكِ اللَّهُ “Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 6/127). Perlu kita ingat bahwa cacian dan makian kepada pasangan yang dilontarkan tanpa sebab, termasuk menyakiti orang mukmin atau mukminah yang dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 58) Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenar untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Allah sebut tindakan semacam ini sebagai dosa yang nyata. Ketiga, Jaga Rahasia Keluarga Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah keluarganya, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia anda berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan. Terkait tujuan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan, وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت “jangan kamu boikot istrimu kecuali di rumah” Ketika suami harus mengambil langkah memboikot istri karena masalah tertentu, jangan sampai boikot ini tersebar keluar sehingga diketahui banyak orang. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika di luar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Kecuali jika anda melaporkan kepada pihak yang berwenang, dalam rangka dilakukan perbaikan. Siapakah pihak yang berwenang? Pihak yang posisinya bisa mengendalikan dan memberi solusi atas masalah keluarga. Dalam hal ini bisa KUA, hakim, ustadz yang amanah, atau mertua. Kami sebut mertua, karena dia berwenang untuk mengendalikan putra-putrinya. Dan ini tidak berlaku sebaliknya. Agar tidak salah paham, berikut keterangan lebih rinci; Ketika suami melakukan kesalahan, tidak selayaknya sang istri melaporkan kesalahan suami ini kepada orang tua istri. Tapi hendaknya dilaporkan kepada orang yang mampu mengendalikan suami, misalnya tokoh agama yang disegani suami atau orang tua suami. Demikian pula ketika sumber masalah adalah istri. Hendaknya suami tidak melaporkannya kepada orang tuanya, tapi dia laporkan ke mertuanya (ortu istri). Solusi ini baru diambil ketika masalah itu tidak memungkinkan untuk diselesaikan sendiri antara suami-istri. Hindari Pemicu Adu Domba Bagian ini perlu kita hati-hati. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi bermusuhan. Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya. Selanjutnya, jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya dugaan buruk (suudzan) antar-sesama. Jika anda tidak memungkinkan menyampaikan secara langsung, sampaikan dalam bentuk email, atau sms. Lebih rincinya, anda bisa pelajari artikel : Mengatasi Keretakan Hubungan Suami Istri Semoga bermanfaat.., Allahu a’lam

Ceramah Singkat: Resep Keluarga dan Rumah Tangga Bahagia, Harmonis dan S...