Sebuah Lembaga Konseling yang lahir di Batam untuk membantu segala problematika yang terjadi baik pada usia dini, usia anak-anak, usia remaja maupun usia dewasa dengan Fungsi Utama pencegahan, perlindungan, pengembangan, dan memandirikan.
Selasa, 24 September 2013
JERITAN SEORANG PERAWAN TUA
Fenomena bertambahnya jumlah wanita yang terlambat menikah (perawan tua) menjadi satu perkara yang menakutkan saat ini, mengancam kebanyakan pemudi-pemudi di masyarakat kita yang Islami, bahkan di seluruh dunia.
Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa’dah 1420 H menuliskan jeritan seorang perawan tua dari Madinah Munawaroh,”Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan. Akan tetapi, realita yang aku alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri. Saya akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas.
Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kami… dan.. dan…
Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta’adud (poligami). Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, “Fulan menikah lagi yang kedua”, tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, “Kalau saya adalah istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku’. Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah ta’addud. Mereka berusaha agar saya mau menerima ta’addud, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari’at ta’addud. Saya katakan kepada mereka, ‘Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku”. Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya.
Begitulah, hari terus berlalu sedangkan saya masih menanti pemuda impian. Saya menanti… akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus menanti. Hampir 30 tahun umur saya dalam penantian. Telah lewat 30 tahun… oh Illahi, apa yang harus saya perbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak punya malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari menunggu.
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, ‘Fulanah jadi perawan tua”. Saya berkata kepada diri sendiri, “Kasihan Fulanah jadi perawan tua”, akan tetapi, Fulanah yang dimaksud itu ternyata saya. Ya Illahi! Sesungguhnya itu adalah nama saya. Saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitungan, apa yang saya kerjakan?
Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantu saya menyelesaikan problema-problema. Saudaraku yang laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka akan mengatakan, “Wanita ini tidak malu”. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa, akan tetapi bukan dari hati. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tangan menggenggam bara api? Saya tidak sanggup.
Suatu hari, saudara saya yang paling besar mendatangi dan berkata, “Hari ini telah datang calon pengantin, tapi saya menolaknya…” Tanpa terasa saya berkata, “Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!” Ia berkata kepadaku, “Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi ta’addud (poligami)”. Hampir saja saya berteriak di hadapannya, “Kenapa kamu tidak menyetujuinya?” Saya rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat. Kedua tangan saya di dalam api. Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi ta’addud, sekarang menerimanya. Saudara saya berkata, “Sudah terlambat”
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta’addud. Satu hikmah ini telah membuat saya menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya Allah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, “Berta’addud-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, “..Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu..” Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami.”
Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, “Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu”
Engkau mungkin mengatakan kepadaku, “Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya”. Saya katakan kepadamu, “Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya”.
Engkau mungkin juga mengatakan, “Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi.” Saya katakan kepadamu, “Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri”. (1)
Demi ALlah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu “Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia”. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih”
Oleh: A.A.N, Madinah
1. HR. Bukhari dalam kitan Iman no 13 dan Muslim no 45.
Disalin oleh Jilbab Online dari buku “Istriku Menikahkanku”, As-Sayid bin Abdul Aziz As-Sa’dani, Darul Falah, cet. Agustus 2004
Selasa, 01 November 2011
Dari HMJ BK UNRIKA menuju UNM Ujung Pandang.
Beberapa waktu yang akan datang tepatnya tanggal 4 Desember 2011, Insya Alloh kami bersama rombongan dari UNRIKA BATAM akan menjelajah samudra luas menuju Indonesia bagian Timur di belahan Indonesia di Ujung Pandang alias Makasar yang terkenal dengan makanan khas lezatnya COTO MAKASAR.
Selama lebih kurang tiga atau empat hari rombongan akan menghabiskan waktunya disana untuk belajar dan menimba keilmuan bimbingan dan konseling dari belahan indonesia bagian timur.
Perjalanan ini merupakan yang pertama kali kami lakukan ke wilayah Makasar - Ujung Pandang mewakili Perguruan Tinggi di Kepulauan Riau sehingga kami sangat berharap akan dapat mengambil sesuatu yang indah disana dan memberikan keindahan itu kepada temen2 di batam yang tidak bisa bergabung kesana.
Seminar International pertama yang akan kami hadiri dan berharap semuanya akan menjadis angat indah dan spectakuler baik dari mulai perjalanannya, materi semianarnya, orang2nya disana dan seluruh kegiatan yang dapat kami ikuti.
Tempat wisata tentunya menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan ini mengingat hal itu merupakan agenda utama yang tertutup oleh agenda besarnya yaitu seminar internasional dan musyawarah kerja nasional IMABKIN.
Semoga perjalan ini menjadi indah dan dapat dirasakan juga nantinya oleh temen2 yang berada di batam.
Selama lebih kurang tiga atau empat hari rombongan akan menghabiskan waktunya disana untuk belajar dan menimba keilmuan bimbingan dan konseling dari belahan indonesia bagian timur.
Perjalanan ini merupakan yang pertama kali kami lakukan ke wilayah Makasar - Ujung Pandang mewakili Perguruan Tinggi di Kepulauan Riau sehingga kami sangat berharap akan dapat mengambil sesuatu yang indah disana dan memberikan keindahan itu kepada temen2 di batam yang tidak bisa bergabung kesana.
Seminar International pertama yang akan kami hadiri dan berharap semuanya akan menjadis angat indah dan spectakuler baik dari mulai perjalanannya, materi semianarnya, orang2nya disana dan seluruh kegiatan yang dapat kami ikuti.
Tempat wisata tentunya menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan ini mengingat hal itu merupakan agenda utama yang tertutup oleh agenda besarnya yaitu seminar internasional dan musyawarah kerja nasional IMABKIN.
Semoga perjalan ini menjadi indah dan dapat dirasakan juga nantinya oleh temen2 yang berada di batam.
Senin, 09 Mei 2011
Oleh-Oleh dari Universitas Negeri Padang ( UNP )
Tidak terasa perjalanan menuju kota Padang nun jauh dimato telah memakan waktu sekitar dua jam setengah menuju TKP yang saya inginkan. Begitu tiba di Bandara Padang Sumatera Barat segera bergegas mencari kendaraan dan memulai perjalanan baru menggunakan kendaraan umum. Rupanya kota Padang yang sudah cukup lama tidak saya kunjungi perubahan pembangunan secara pisik banyak mengalami perubahan yang cukup banyak dan terasa semakin asri.
Begitu tiba di lokasi, kita berkoordinasi dengan panitia yang akhirnya mengirimkan pasukan untuk menjemput saya di gerbang jalan raya. Mr Salim namanya. Ya, ini nama rekan yang dikirimkan untuk menjemput kami. orangnya masih muda, penampilannya nyentrik dan kelihatan penuh energik.( ada iklan, dan akan berlanjut yaa )
Begitu tiba di lokasi, kita berkoordinasi dengan panitia yang akhirnya mengirimkan pasukan untuk menjemput saya di gerbang jalan raya. Mr Salim namanya. Ya, ini nama rekan yang dikirimkan untuk menjemput kami. orangnya masih muda, penampilannya nyentrik dan kelihatan penuh energik.( ada iklan, dan akan berlanjut yaa )
Selasa, 25 Januari 2011
LAPORAN HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI KASUS PENDIDIKAN
LAPORAN HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI KASUS PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) WACHID HASYIM
PARENGAN – MADURAN – LAMONGAN
BAGIAN I
LATAR BELAKANG MASALAH
A. IDENTITAS SISWA
Nama : M
Tempat & Tanggal Lahir : Lamongan 22 Desember 1990
Alamat : Jl. Mangga 28 Maduran
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Agama : Islam
Kelas : 2 A
Orang tua : H
Pekerjaan : Petani
B. PELANGGARAN YANG DILAKUKAN
Sering membolos sekolah
C. SUMBER INFORMASI
Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim. Berdasar data dari guru BK. Saudara As’ad tercatat rata-rata membolos 4 -5 kali dalam satu bulan.
D. TUJUAN DILAKUKANNYA WAWANCARA DAN OBSERVASI
1. Tujuan khusus : Untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos saudara As’ad dan untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.
2. Tujuan umum : Hasil wawancara dan observasi ini, nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan sebuah program yang bertujuan untuk meminimalisasi prevalensi perilaku membolos sekolah pada siswa-siswi SMA Wahid Hasyim. Mengingat sebagai suatu komunitas, tentunya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain banyak memiliki kesamaan, baik dari segi fase perkembangan, status sosial orang tua, dan tingkat ekonomi. Sehingga hasil wawancara dan observasi terhadap saudara As’ad ini nantinya akan dapat digunakan sebagai dasar yang relevan dalam menentukan sebuah program penanganan untuk mengurangi prevalensi perilaku membolos pada siswa-siswi SMA Wachid Hasyim.
BAGIAN II
TEORI RUJUKAN
REMAJA
Masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Calon (1953) dalam Monks (2002) mengatakan masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak, karena secara fisik mereka sudah seperti orang dewasa. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Monsk, 2002). Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberiikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut (Sarwono, 2001):
Remaja adalah suatu masa dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
DELINKUEN
Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio dalam (Sarwono, 2001) mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat (Pusda Depsos RI, 1999). B. Simanjutak dalam (Sudarsono, 1995) memberii tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif. Psikolog Bimo Walgito dalam (Sudarsono, 1995) merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja. Sementara John W. Santrock (1995) mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).
BENTUK- BENTUK KENAKALAN
William C. Kvaraceus dalam (Mulyono, 1995) membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu:
1. Kenakalan bisaa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberii pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.
2. Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.
FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN
Menurut Kartini Kartono (1998), Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang.
Kartini Kartono (1998) membagi faktor penyebab perilaku delinkuen menjadi dua bagian sebagai berikut:
FAKTOR INTERNAL
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa:
1. Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.
2. Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.
3. Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh:
1. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
2. Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
3. Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
4. Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983 dalam Sarwono, 2001).
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat (Tambunan, 2008).
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
faktor-faktor internal penyebab perilaku delinkuen
1). Reaksi frustrasi negatif
2). Gangguan pengamatan dan tanggapan
Faktor internal
3). Gangguan cara berfikir
4). Gangguan emosional atau perasaan
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 120.
FAKTOR EKSTERNAL
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti (Kartono, 1998):
1. Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
2. Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
3. Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
4. Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku delinkuen
1.1. Broken home
1.2. Perlindungan lebih
1). Faktor keluarga
1.3. Penolakan orang tua
Faktor eksternal 1.4. Pengaruh buruk dari
orang tua
2). Faktor sekolah
3). Milieu
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 126.
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001.
Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah 'a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya (Gialombardo, 1972 dalam Suyatno, 2008):
1. Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
2. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.
3. Proses mempelajari perilaku bisaanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini bisaanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.
a. Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
b. Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan psikologis anak digambarkan oleh Hasbullah M. Saad (2003) dalam bukunya Perkelahian Pelajar seperti dibawah ini:
Model umum pengaruh kondisi lingkungan terhadap
Perkembangan psikologis anak
Lingkungan makro
Karakter anak
Atensi
Karakter keluarga Interaksi antar perhatian ibu dengan anak
Mainutris
Perkembangan psikologis
Sumber: Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003), hal. 32.
BAGIAN III
WAWANCARA & OBSERVASI UNTUK TUJUAN ASSESMENT
Dasar-dasar teori diatas kemudian dijadikan sebagai acuan untuk membuat guide interview & check-List untuk mendapatkan informasi mengenahi latar belakang masalah yang sedang dihadapi oleh saudara As’ad (Perilaku membolos).
1. HASIL OBSERVASI
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI KONDISI SUBJEK SAAT INI
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Cara berpakaian sangat rapi
cukup
Tdk rapi
2. Sopan Santun baik
cukup
kurang
3. Pergaulan baik
cukup
kurang
4. Keseriusan dalam mengikuti pelajaran baik
cukup
kurang
5. Mencatat materi pelajaran selalu
kadang2
tdk pernah
6. Membolos sekolah sering
kadang 2
tdk pernah
7. Mengikuti kegiatan ekstra selalu
kadang 2
tdk pernah
8. Mematuhi peraturan sekolah selalu
kadang 2
tdk pernah
9. Cara berinteraksi dengan teman. baik
cukup
kurang
10. Menggunakan bahasa yang positif. selalu
kadang 2
tdk pernah
11. Duduk di barisan depan selalu
kadang 2
tdk pernah
12. Ikut serta dalam diskusi kelas selalu
kadang 2
tdk pernah
Keterangan:
Berilah tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi siswa saat ini.
Untuk penilaian membolos sekolah:
1. Sering (setiap dua minggu ada 1 hari yang tidak masuk).
2. Kadang-kadang (dalam 1 bulan ada 1 hari yang membolos).
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI HUBUNGAN
SUBJEK DENGAN ORANG TUA
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Perhatian orang tua baik
cukup
kurang
2. Komunikasi baik
cukup
kurang
3. Cara orang tua berinteraksi dengan anak. baik
cukup
kurang
4. Cara anak berinteraksi dengan orang tua. baik
cukup
kurang
5. Patuh terhadap aturan orang tua. selalu
kadang2
tdk pernah
6. Menghormati orang tua selalu
kadang 2
tdk pernah
7. Penghargaan orang tua terhadap pendapat anak. baik
cukup
kurang
8. Model pendidikan ortu otoriter
demokratis
Keterangan:
Beri tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi
siswa saat ini.
Observasi disekolah dilakukan pada tanggal 24, 31 Mei & 7 Juni dan observasi rumah dilakukan pada tanggal 25 Mei, 1 Juni dan 8 Juni, adapun untuk aspek penilaian membolos sekolah digunakan data absensi kelas. Hasil observasi menunjukkan As’ad adalah termasuk siswa yang tidak begitu disukai oleh teman-teman temannya karena As’ad dalam berkomunikasi dengan teman-temannya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang tidak positif seperti kata “jancuk” dan lain sebagainya. Cara berpakaian As’ad juga tidak rapi, bajunya tidak pernah dimasukkan dan rambutnya panjang. Selain itu As’ad juga tidak memiliki sopan santun terhadap guru, ketika berada di dalam kelas A’ad selalu membuat gaduh saat pelajaran sedang berlangsung, tidak pernah mencatat materi yang diberikan oleh guru, tidak pernah mengikuti diskusi dan selalu duduk paling belakang. As’at juga terkenal sebagai siswa yang tidak pernah patuh terhadap peraturan-oeraturan sekolah, seperti tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra, selalu membolos dan tidak pernah serius dalam mengikuti pelajaran.
Orang tua As’ad terlalu bersikap otoriter dalam mendidik anak-anaknya terlebih terhadap As’ad karena As’ad tidak pernah patuh dan menghormati aturan-aturan yang ada dalam keluarga. Cara berinteraksi As’ad dengan orang tua atau sebaliknya orang tua dengan As’ad tergolong kurang baik. Dalam lingkungan keluarga As’ad kurang mendapat penghargaan dari orang tua dan kurang diperhatikan, karena orang tua As’ad tidak pernah mau tau terhadap masalah As’ad, yang ada As’ad selalu mendapat marah dari orang tua.
2. HASIL WAWANCARA
Wawancara dilakukan pada tanggal 14 Juni, karena keterbatasan waktu wawancara hanya dilakukan kepada As’ad untuk melengkapi hasil observasi. Adapun hasil wawancara dengan As’ad secara verbatim disajikan dibawah ini:
Baris Isi wawancara Baris Masalah Yang Ditemukan
1
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
105
110
115
119 + Selamat siang mas As’ad
++ Siang pak! (agak tidak suka)
+ maaf mengganggu belajar mas As’ad sebentar
++ tidak apa-apa pak
+ terima kasih. Kalau boleh tau sepulang dari sekolah bisaanya apa kegiatan mas As’ad?
++ bisaanya saya tidak langsung pulang pak, mampir kewarung kopi dulu, baru pulang
+ kenapa mas As’ad tidak langsung pulang dan lebih memilih kewarung kopi dulu?
++ dari pada di rumah dimarahi terus sama orang tua pak, lebih baik kewarung kopi bisa kumpul dengan teman-teman yang lain.
+ bisaanya kewarung kopi mana dan apa yang mas As’ad lakukan di sana?
++ warung kopinya di Maduran Pak di desa saya sendiri, ya Cuma nongkrong saja Pak, kadang-kadang ya sambil main remi (main kartu).
+ sepulang dari warung kopi, apa As’ad juga ikut mengaji di mushollah, saya dapat informasi dari sekolah katanya bapak anda pak haji?
++ yang haji kan orang tua saya pak. Bisaanya ya tidur pak kalau tidak ada acara keluar dengan teman.
+ kalau begitu kapan As’ad belajar?
++ tidak pernah belajar pak, belajar juga buat apa, wong saya ini tidak pernah diperhatikan oleh orang tua saya kok.
+ masuk As’ad tidak memperhatikan?
++ saya itu sebenarnya kepingin masuk ke STM (Sekolah Teknik Mesin), tapi orang tua tidak pernah mau mendengarkan keinginan saya dan akhirnya saya sekolah di SMA Wachid Hasyim ini pak.
+ kalau boleh tau apa yang menjadi alasan orang tua As’ad lebih memilih SMA daripada STM?
++ orang tua saya itu kepinginnya saya jadi guru agama, saya pernah dipondokkan di pesantren Langitan Tuban tapi saya tidak kerasan.
+ apa karena tidak boleh masuk STM itu yang membuat As’ad selalu membolos sekolah?
++ iya pak, lawong saya itu tidak berminat sekolah diselain STM, ya mau bagaimana lagi pak, saya itu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
+ As’ad bisa bertanya pada teman-teman yang lain kan?
++ teman-teman tidak ada yang suka dengan saya pak, soalnya kata teman-teman saya itu kalau bicara arogan. Makanya saya sering bolos karena saya tidak punya teman di sekolah, lebih baik saya kewarung kopi banyak yang menghargai saya.
+ apa As’ad tidak merasa rugi kalau As’ad selalu membolos sekolah?
++ tidak pak buat apa wong saya memang sudah tidak suka sekolah disini. Kalau orang tua saya mau memindahkan ke STM ya saya akan rajin sekolah pak.
+ belajar mesin kan tidak hanya di sekolah, As’ad bisa ambil kursus mesin sambil tetap sekolah. Selain As’ad senang orang tua As’ad juga senang. Apa As’ad tidak pernah coba membicarakan kepada orang tua As’ad?
++ saya itu jarang bicara dengan orang tua saya pak, begitu juga dengan orang tua saya. Paling-paling kalau mau marahi atau menyuruh saya saja baru bicara. Mereka itu tidak pernah mau tau dengan keinginan anak-naknya. Makanya kakak saya dulu juga sering dapat masalah di sekolah seperti saya ini.
+ jadi komunikasi As’ad dengan orang tua selama ini bagaimana?
++ ya seperti yang saya bilang tadi pak.
+ menurut informasi dari guru BK, As’ad juga tidak punya sopan santun pada guru dan tidak pernah ikut kegiatan ekstra kulikuler, apa benar demikian?
++ saya tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karena tidak ada yang saya sukai pak, jadi buat apa saya ikut. Kalau tidak sopan dengan para guru….saya sopan kok pak (defend)
+ pernah tidak As’ad bicara sendiri saat pelajaran berlangsung?
++ sering pak, saya tidak suka dengan pelajarannya makanya saya tidak mau mendengarkan pak.
+ apa As’ad selalu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh pak guru?
++ tidak pak.
+ baik, apa alasan As’ad tidak pernah memasukkan baju dan berambut panjang?
++ biar keren pak, biar kelihatan macho, kalau tidak begini tidak ada cewek yang naksir saya donk pak, sudah bodoh dan tidak keren. Kalau begini kan keren pak.
+ lalu apa yang membuat As’ad tidak pernah mematuhi peraturan orang tua?
++ mereka juga tidak pernah memperhatikan saya pak.
+ maksud As’ad?
++ mereka kan maunya menang sendiri. Mereka juga tidak pernah memberii penghargaan atas prestasi saya. Saya pernah menag juara 1 dalam lomba menggambar tingkat kecamatan. Semua teman memberii ucapan selama. Tapi orang tua saya bisaa saja dan tidak menghargai saya.
+ baik, kalau begitu untuk sementara cukup dulu. Terima kasih dan minggu depan saya akan memanggil As’ad lagi untuk mendengarkan keinginan-keinginana As’ad yang nanti akan saya sampaikan kepada orang tua As’ad. Bagaimana anda bersedia.
++ asalkan untuk saya pak.
+ baik.
5 – 9
12
21 – 26
26 – 28
31 -34
40 – 45
50 -53
55 – 60
65-70
80 -84
85 – 89
90 – 93
95-100
103-105
105-110
Keluyuran
Selalu dimarahi ortu
Tidak mau mengikuti aturan orang tua.
Tidak pernah belajar
Tidak suka dengan sekolahnya.
Membolos sekolah
Tidak bisa mengikuti pelajaran.
Tidak disukai oleh teman
Tidak punya motivasi
Komunikasi dengan orang tua tidak baik.
Tidak pernah ikut ekstra kulikuler
Tidak mendengarkan guru
Tidak pernah mengrjakan PR
Tidak pernah berpakaian rapi
Tidak diperhatikan orang tua
Tidak pernah dihargai orang tua
Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku membolos sekolah saudara As’ad disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Faktor internal
Faktor emosi, dalam hal ini adalah ketidak mampuan subjek secara emosi dalam mensikapi perlakuan orang tua yang terlalu otoriter dan tidak memberi ruang diskusi pada subjek. Sehingga subjek merespon sikap orang tua yang demikian dengan melakukan perilaku-perilaku yang melanggar aturan-aturan keluarga dan aturan-aturan sekolah. Ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono (1998), bahwa gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
Ketidak mampuan subjek dalam melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah. Philip Graham (1983) menjelaskan bahwa factor ketidak mampuan subjek dalam menyesuaikan diri juga dapat menyebabkan perilaku delinkuen.
Reaksi frustrasi. Dalam hal ini adalah ketidak puasan subjek terhadap keputusan memasukkan dirinya ke sekolah SMA, yang kemudian direspon secara negative oleh subjek, seperti tidak mau memperhatikan guru dan membolos.
2. Faktor eksternal
Pola asuh keluarga yang otoriter. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Santrock, menurutnya faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001).
Lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang belum memiliki tenaga Psikolog membuat As’ad cuma menjadi bahan cemoohan dan tidak mendapat problem solving yang tepat, akibatnya As’ad cenderung menarik diri dari pergaulan sekolah dan lebih memilih bergaul dengan remaja-remaja yang nongkrong diwarung kopi.
BAGIAN IV
PENANGANAN KASUS
UNTUK TUJUAN PENYELESAIAN MASALAH AS’AD
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh As’ad. Dapat dilakukan konseling kepada As’ad yang berorientasi pada menumbuhkan kesadaran pada diri subjek bahwa cara dirinya mensikapi pendidikan orang tuanya yang terlalu otoriter itu kurang tepat, karena langkah yang diambil oleh subjek justeru merugikan diri subjek sendiri. Selain itu konseling juga diarahkan pada menjadikan subjek sebagai orang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan teknik-teknik konfrontasi dengan pendekatan RET (Rational Emotif) dan Pendekatan Realitas akan mampu membantu subjek menyelesaikan masalahnya secara positif dan konstruktif.
Selain itu, konseling juga dilakukan kepada kedua orang tua As’ad, untuk memberii pengertian kepada mereka akan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Selain itu konseling ditujukan untuk memberi pengertian kepada orang tua, bahwa sangat disarankan kepada orang tua untuk menempatkan anak pada pendidikan yang sesuai dengan minat anak. Berkaitan dengan masalah As’ad orang tua dapat disarankan untuk mencarikan solusi alternative untuk mengembangkan potensi yang dimiliki As’ad, dengan memasukkan As’ad pada kursus Teknik Mesin.
UNTUK TUJUAN MEMINIMALISASI PREVALENSI MEMBOLOS PADA SISWA SMA WACHID HASYIM
Untuk tujuan diatas, dapat dibuat program kegiatan semisal seminar tentang pendidikan anak yang diperuntukkan untuk para orang tua yang anaknya memiliki masalah di sekolah dan dapat dibuat program seminar tentang pentingnya management diri untuk mencapai kesuksesan dimasa depan yang diperuntukkan bagi para siswa yang bermasalah.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Kartono., Kartini, 1998, Patologi Sosial 2, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Mulyono., Y. Bambang, 1995, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Yogyakarta:Kanisius.
Saad., Hasbullah M., 2003, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Yogyakarta:Galang Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Sarwono., Sarlito Wirawan, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Sudarsono, 1995, Kenakalan Remaja, Jakarta:Rineka Cipta.
Tambunan., Raimon, Perkelahian Pelajar, http// e-psikologi.com, diakses 20 Mei 2008.
Suyatno., Bagong, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, http://bkkbn.go.id, diakses 20 Mei 2008.
PARENGAN – MADURAN – LAMONGAN
BAGIAN I
LATAR BELAKANG MASALAH
A. IDENTITAS SISWA
Nama : M
Tempat & Tanggal Lahir : Lamongan 22 Desember 1990
Alamat : Jl. Mangga 28 Maduran
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Agama : Islam
Kelas : 2 A
Orang tua : H
Pekerjaan : Petani
B. PELANGGARAN YANG DILAKUKAN
Sering membolos sekolah
C. SUMBER INFORMASI
Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim. Berdasar data dari guru BK. Saudara As’ad tercatat rata-rata membolos 4 -5 kali dalam satu bulan.
D. TUJUAN DILAKUKANNYA WAWANCARA DAN OBSERVASI
1. Tujuan khusus : Untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos saudara As’ad dan untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.
2. Tujuan umum : Hasil wawancara dan observasi ini, nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan sebuah program yang bertujuan untuk meminimalisasi prevalensi perilaku membolos sekolah pada siswa-siswi SMA Wahid Hasyim. Mengingat sebagai suatu komunitas, tentunya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain banyak memiliki kesamaan, baik dari segi fase perkembangan, status sosial orang tua, dan tingkat ekonomi. Sehingga hasil wawancara dan observasi terhadap saudara As’ad ini nantinya akan dapat digunakan sebagai dasar yang relevan dalam menentukan sebuah program penanganan untuk mengurangi prevalensi perilaku membolos pada siswa-siswi SMA Wachid Hasyim.
BAGIAN II
TEORI RUJUKAN
REMAJA
Masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Calon (1953) dalam Monks (2002) mengatakan masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak, karena secara fisik mereka sudah seperti orang dewasa. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Monsk, 2002). Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberiikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut (Sarwono, 2001):
Remaja adalah suatu masa dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
DELINKUEN
Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio dalam (Sarwono, 2001) mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat (Pusda Depsos RI, 1999). B. Simanjutak dalam (Sudarsono, 1995) memberii tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif. Psikolog Bimo Walgito dalam (Sudarsono, 1995) merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja. Sementara John W. Santrock (1995) mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).
BENTUK- BENTUK KENAKALAN
William C. Kvaraceus dalam (Mulyono, 1995) membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu:
1. Kenakalan bisaa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberii pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.
2. Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.
FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN
Menurut Kartini Kartono (1998), Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang.
Kartini Kartono (1998) membagi faktor penyebab perilaku delinkuen menjadi dua bagian sebagai berikut:
FAKTOR INTERNAL
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa:
1. Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.
2. Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.
3. Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh:
1. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
2. Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
3. Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
4. Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983 dalam Sarwono, 2001).
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat (Tambunan, 2008).
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
faktor-faktor internal penyebab perilaku delinkuen
1). Reaksi frustrasi negatif
2). Gangguan pengamatan dan tanggapan
Faktor internal
3). Gangguan cara berfikir
4). Gangguan emosional atau perasaan
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 120.
FAKTOR EKSTERNAL
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti (Kartono, 1998):
1. Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
2. Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
3. Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
4. Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku delinkuen
1.1. Broken home
1.2. Perlindungan lebih
1). Faktor keluarga
1.3. Penolakan orang tua
Faktor eksternal 1.4. Pengaruh buruk dari
orang tua
2). Faktor sekolah
3). Milieu
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 126.
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001.
Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah 'a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya (Gialombardo, 1972 dalam Suyatno, 2008):
1. Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
2. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.
3. Proses mempelajari perilaku bisaanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini bisaanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.
a. Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
b. Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan psikologis anak digambarkan oleh Hasbullah M. Saad (2003) dalam bukunya Perkelahian Pelajar seperti dibawah ini:
Model umum pengaruh kondisi lingkungan terhadap
Perkembangan psikologis anak
Lingkungan makro
Karakter anak
Atensi
Karakter keluarga Interaksi antar perhatian ibu dengan anak
Mainutris
Perkembangan psikologis
Sumber: Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003), hal. 32.
BAGIAN III
WAWANCARA & OBSERVASI UNTUK TUJUAN ASSESMENT
Dasar-dasar teori diatas kemudian dijadikan sebagai acuan untuk membuat guide interview & check-List untuk mendapatkan informasi mengenahi latar belakang masalah yang sedang dihadapi oleh saudara As’ad (Perilaku membolos).
1. HASIL OBSERVASI
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI KONDISI SUBJEK SAAT INI
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Cara berpakaian sangat rapi
cukup
Tdk rapi
2. Sopan Santun baik
cukup
kurang
3. Pergaulan baik
cukup
kurang
4. Keseriusan dalam mengikuti pelajaran baik
cukup
kurang
5. Mencatat materi pelajaran selalu
kadang2
tdk pernah
6. Membolos sekolah sering
kadang 2
tdk pernah
7. Mengikuti kegiatan ekstra selalu
kadang 2
tdk pernah
8. Mematuhi peraturan sekolah selalu
kadang 2
tdk pernah
9. Cara berinteraksi dengan teman. baik
cukup
kurang
10. Menggunakan bahasa yang positif. selalu
kadang 2
tdk pernah
11. Duduk di barisan depan selalu
kadang 2
tdk pernah
12. Ikut serta dalam diskusi kelas selalu
kadang 2
tdk pernah
Keterangan:
Berilah tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi siswa saat ini.
Untuk penilaian membolos sekolah:
1. Sering (setiap dua minggu ada 1 hari yang tidak masuk).
2. Kadang-kadang (dalam 1 bulan ada 1 hari yang membolos).
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI HUBUNGAN
SUBJEK DENGAN ORANG TUA
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Perhatian orang tua baik
cukup
kurang
2. Komunikasi baik
cukup
kurang
3. Cara orang tua berinteraksi dengan anak. baik
cukup
kurang
4. Cara anak berinteraksi dengan orang tua. baik
cukup
kurang
5. Patuh terhadap aturan orang tua. selalu
kadang2
tdk pernah
6. Menghormati orang tua selalu
kadang 2
tdk pernah
7. Penghargaan orang tua terhadap pendapat anak. baik
cukup
kurang
8. Model pendidikan ortu otoriter
demokratis
Keterangan:
Beri tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi
siswa saat ini.
Observasi disekolah dilakukan pada tanggal 24, 31 Mei & 7 Juni dan observasi rumah dilakukan pada tanggal 25 Mei, 1 Juni dan 8 Juni, adapun untuk aspek penilaian membolos sekolah digunakan data absensi kelas. Hasil observasi menunjukkan As’ad adalah termasuk siswa yang tidak begitu disukai oleh teman-teman temannya karena As’ad dalam berkomunikasi dengan teman-temannya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang tidak positif seperti kata “jancuk” dan lain sebagainya. Cara berpakaian As’ad juga tidak rapi, bajunya tidak pernah dimasukkan dan rambutnya panjang. Selain itu As’ad juga tidak memiliki sopan santun terhadap guru, ketika berada di dalam kelas A’ad selalu membuat gaduh saat pelajaran sedang berlangsung, tidak pernah mencatat materi yang diberikan oleh guru, tidak pernah mengikuti diskusi dan selalu duduk paling belakang. As’at juga terkenal sebagai siswa yang tidak pernah patuh terhadap peraturan-oeraturan sekolah, seperti tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra, selalu membolos dan tidak pernah serius dalam mengikuti pelajaran.
Orang tua As’ad terlalu bersikap otoriter dalam mendidik anak-anaknya terlebih terhadap As’ad karena As’ad tidak pernah patuh dan menghormati aturan-aturan yang ada dalam keluarga. Cara berinteraksi As’ad dengan orang tua atau sebaliknya orang tua dengan As’ad tergolong kurang baik. Dalam lingkungan keluarga As’ad kurang mendapat penghargaan dari orang tua dan kurang diperhatikan, karena orang tua As’ad tidak pernah mau tau terhadap masalah As’ad, yang ada As’ad selalu mendapat marah dari orang tua.
2. HASIL WAWANCARA
Wawancara dilakukan pada tanggal 14 Juni, karena keterbatasan waktu wawancara hanya dilakukan kepada As’ad untuk melengkapi hasil observasi. Adapun hasil wawancara dengan As’ad secara verbatim disajikan dibawah ini:
Baris Isi wawancara Baris Masalah Yang Ditemukan
1
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
105
110
115
119 + Selamat siang mas As’ad
++ Siang pak! (agak tidak suka)
+ maaf mengganggu belajar mas As’ad sebentar
++ tidak apa-apa pak
+ terima kasih. Kalau boleh tau sepulang dari sekolah bisaanya apa kegiatan mas As’ad?
++ bisaanya saya tidak langsung pulang pak, mampir kewarung kopi dulu, baru pulang
+ kenapa mas As’ad tidak langsung pulang dan lebih memilih kewarung kopi dulu?
++ dari pada di rumah dimarahi terus sama orang tua pak, lebih baik kewarung kopi bisa kumpul dengan teman-teman yang lain.
+ bisaanya kewarung kopi mana dan apa yang mas As’ad lakukan di sana?
++ warung kopinya di Maduran Pak di desa saya sendiri, ya Cuma nongkrong saja Pak, kadang-kadang ya sambil main remi (main kartu).
+ sepulang dari warung kopi, apa As’ad juga ikut mengaji di mushollah, saya dapat informasi dari sekolah katanya bapak anda pak haji?
++ yang haji kan orang tua saya pak. Bisaanya ya tidur pak kalau tidak ada acara keluar dengan teman.
+ kalau begitu kapan As’ad belajar?
++ tidak pernah belajar pak, belajar juga buat apa, wong saya ini tidak pernah diperhatikan oleh orang tua saya kok.
+ masuk As’ad tidak memperhatikan?
++ saya itu sebenarnya kepingin masuk ke STM (Sekolah Teknik Mesin), tapi orang tua tidak pernah mau mendengarkan keinginan saya dan akhirnya saya sekolah di SMA Wachid Hasyim ini pak.
+ kalau boleh tau apa yang menjadi alasan orang tua As’ad lebih memilih SMA daripada STM?
++ orang tua saya itu kepinginnya saya jadi guru agama, saya pernah dipondokkan di pesantren Langitan Tuban tapi saya tidak kerasan.
+ apa karena tidak boleh masuk STM itu yang membuat As’ad selalu membolos sekolah?
++ iya pak, lawong saya itu tidak berminat sekolah diselain STM, ya mau bagaimana lagi pak, saya itu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
+ As’ad bisa bertanya pada teman-teman yang lain kan?
++ teman-teman tidak ada yang suka dengan saya pak, soalnya kata teman-teman saya itu kalau bicara arogan. Makanya saya sering bolos karena saya tidak punya teman di sekolah, lebih baik saya kewarung kopi banyak yang menghargai saya.
+ apa As’ad tidak merasa rugi kalau As’ad selalu membolos sekolah?
++ tidak pak buat apa wong saya memang sudah tidak suka sekolah disini. Kalau orang tua saya mau memindahkan ke STM ya saya akan rajin sekolah pak.
+ belajar mesin kan tidak hanya di sekolah, As’ad bisa ambil kursus mesin sambil tetap sekolah. Selain As’ad senang orang tua As’ad juga senang. Apa As’ad tidak pernah coba membicarakan kepada orang tua As’ad?
++ saya itu jarang bicara dengan orang tua saya pak, begitu juga dengan orang tua saya. Paling-paling kalau mau marahi atau menyuruh saya saja baru bicara. Mereka itu tidak pernah mau tau dengan keinginan anak-naknya. Makanya kakak saya dulu juga sering dapat masalah di sekolah seperti saya ini.
+ jadi komunikasi As’ad dengan orang tua selama ini bagaimana?
++ ya seperti yang saya bilang tadi pak.
+ menurut informasi dari guru BK, As’ad juga tidak punya sopan santun pada guru dan tidak pernah ikut kegiatan ekstra kulikuler, apa benar demikian?
++ saya tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karena tidak ada yang saya sukai pak, jadi buat apa saya ikut. Kalau tidak sopan dengan para guru….saya sopan kok pak (defend)
+ pernah tidak As’ad bicara sendiri saat pelajaran berlangsung?
++ sering pak, saya tidak suka dengan pelajarannya makanya saya tidak mau mendengarkan pak.
+ apa As’ad selalu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh pak guru?
++ tidak pak.
+ baik, apa alasan As’ad tidak pernah memasukkan baju dan berambut panjang?
++ biar keren pak, biar kelihatan macho, kalau tidak begini tidak ada cewek yang naksir saya donk pak, sudah bodoh dan tidak keren. Kalau begini kan keren pak.
+ lalu apa yang membuat As’ad tidak pernah mematuhi peraturan orang tua?
++ mereka juga tidak pernah memperhatikan saya pak.
+ maksud As’ad?
++ mereka kan maunya menang sendiri. Mereka juga tidak pernah memberii penghargaan atas prestasi saya. Saya pernah menag juara 1 dalam lomba menggambar tingkat kecamatan. Semua teman memberii ucapan selama. Tapi orang tua saya bisaa saja dan tidak menghargai saya.
+ baik, kalau begitu untuk sementara cukup dulu. Terima kasih dan minggu depan saya akan memanggil As’ad lagi untuk mendengarkan keinginan-keinginana As’ad yang nanti akan saya sampaikan kepada orang tua As’ad. Bagaimana anda bersedia.
++ asalkan untuk saya pak.
+ baik.
5 – 9
12
21 – 26
26 – 28
31 -34
40 – 45
50 -53
55 – 60
65-70
80 -84
85 – 89
90 – 93
95-100
103-105
105-110
Keluyuran
Selalu dimarahi ortu
Tidak mau mengikuti aturan orang tua.
Tidak pernah belajar
Tidak suka dengan sekolahnya.
Membolos sekolah
Tidak bisa mengikuti pelajaran.
Tidak disukai oleh teman
Tidak punya motivasi
Komunikasi dengan orang tua tidak baik.
Tidak pernah ikut ekstra kulikuler
Tidak mendengarkan guru
Tidak pernah mengrjakan PR
Tidak pernah berpakaian rapi
Tidak diperhatikan orang tua
Tidak pernah dihargai orang tua
Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku membolos sekolah saudara As’ad disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Faktor internal
Faktor emosi, dalam hal ini adalah ketidak mampuan subjek secara emosi dalam mensikapi perlakuan orang tua yang terlalu otoriter dan tidak memberi ruang diskusi pada subjek. Sehingga subjek merespon sikap orang tua yang demikian dengan melakukan perilaku-perilaku yang melanggar aturan-aturan keluarga dan aturan-aturan sekolah. Ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono (1998), bahwa gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
Ketidak mampuan subjek dalam melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah. Philip Graham (1983) menjelaskan bahwa factor ketidak mampuan subjek dalam menyesuaikan diri juga dapat menyebabkan perilaku delinkuen.
Reaksi frustrasi. Dalam hal ini adalah ketidak puasan subjek terhadap keputusan memasukkan dirinya ke sekolah SMA, yang kemudian direspon secara negative oleh subjek, seperti tidak mau memperhatikan guru dan membolos.
2. Faktor eksternal
Pola asuh keluarga yang otoriter. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Santrock, menurutnya faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001).
Lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang belum memiliki tenaga Psikolog membuat As’ad cuma menjadi bahan cemoohan dan tidak mendapat problem solving yang tepat, akibatnya As’ad cenderung menarik diri dari pergaulan sekolah dan lebih memilih bergaul dengan remaja-remaja yang nongkrong diwarung kopi.
BAGIAN IV
PENANGANAN KASUS
UNTUK TUJUAN PENYELESAIAN MASALAH AS’AD
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh As’ad. Dapat dilakukan konseling kepada As’ad yang berorientasi pada menumbuhkan kesadaran pada diri subjek bahwa cara dirinya mensikapi pendidikan orang tuanya yang terlalu otoriter itu kurang tepat, karena langkah yang diambil oleh subjek justeru merugikan diri subjek sendiri. Selain itu konseling juga diarahkan pada menjadikan subjek sebagai orang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan teknik-teknik konfrontasi dengan pendekatan RET (Rational Emotif) dan Pendekatan Realitas akan mampu membantu subjek menyelesaikan masalahnya secara positif dan konstruktif.
Selain itu, konseling juga dilakukan kepada kedua orang tua As’ad, untuk memberii pengertian kepada mereka akan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Selain itu konseling ditujukan untuk memberi pengertian kepada orang tua, bahwa sangat disarankan kepada orang tua untuk menempatkan anak pada pendidikan yang sesuai dengan minat anak. Berkaitan dengan masalah As’ad orang tua dapat disarankan untuk mencarikan solusi alternative untuk mengembangkan potensi yang dimiliki As’ad, dengan memasukkan As’ad pada kursus Teknik Mesin.
UNTUK TUJUAN MEMINIMALISASI PREVALENSI MEMBOLOS PADA SISWA SMA WACHID HASYIM
Untuk tujuan diatas, dapat dibuat program kegiatan semisal seminar tentang pendidikan anak yang diperuntukkan untuk para orang tua yang anaknya memiliki masalah di sekolah dan dapat dibuat program seminar tentang pentingnya management diri untuk mencapai kesuksesan dimasa depan yang diperuntukkan bagi para siswa yang bermasalah.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Kartono., Kartini, 1998, Patologi Sosial 2, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Mulyono., Y. Bambang, 1995, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Yogyakarta:Kanisius.
Saad., Hasbullah M., 2003, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Yogyakarta:Galang Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Sarwono., Sarlito Wirawan, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Sudarsono, 1995, Kenakalan Remaja, Jakarta:Rineka Cipta.
Tambunan., Raimon, Perkelahian Pelajar, http// e-psikologi.com, diakses 20 Mei 2008.
Suyatno., Bagong, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, http://bkkbn.go.id, diakses 20 Mei 2008.
Minggu, 26 Desember 2010
dari LBK Unrika ke UNP Padang
Seperti yang kami tuliskan sebelumnya bahwa tidak lama lagi rombongan dari LBK Batam/LBK Unrika akan berangkat menuju Universitas Negeri Padang ( UNP ) untuk belajar guna menambah keilmuan bimbingan dan konseling melalui Seminar Nasional, Workshop dan Observasi konseling individual dan konseling kelompok bersama peserta didik tingkat SMP dan SLTA se Sumatera Barat.
Perjalanan ini merupakan momen yang sangat penting bagi kami sebagai calon konselor professional dalam mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan keilmuan bimbingan dan konseling dalam tataran praktis khususnya di sekolah-sekolah di batam dan umumnya kepada seluruh komponen masyarakat yang membutuhkan di seluruh Kepulauan Riau.
Sumatera Barat adalah salah satu kiblat terpenting diluar Jawa dalam bidang keilmuan bimbingan dan konseling yang menjadi pusat study dan praktikum khususnya di Univesitas Negeri Padang dan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya.
Harapan kami sebagai konselor pemula, kita akan dapat belajar, mengasah, mengembangkan dan melakukan study banding sbagai bahan kajian dan development di LBK Unrika Batam agar dapat menmberikan sumbangsih dan kontribusi yang signifikan terhadap carut marutnya dunia pendidikan di Batam dan terhadap adanya dekadensi moral yang luar biasa terjadi di propinsi Kepulauan Riau.
Team yang akan berangkat ke padang nanti berjumlah sekitar empat atau lima orang. diantaranya adalah, Suharmanto W.P, Sarwiyanto Nugroho. W.S, Misrawati W.P, Raini W.M dan Komsiah, S.Fil. M.Si.
Rencananya akan berangkat pada tanggal 14 Januari' 2011 dengan menggunakan pesawat V.I.P dari bandara Hangnadim menuju Padang Kota.
Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan kemudahan, keberkahan dan kekuatan kepada team dalam menjalankan tugasnya sehingga mampu membawa oleh-oleh ilmu yang bermanfaat bukan saja kepada dirinya masing masing tetapi juga bermanfaat besar untuk kepentingan masyarakat luas.
Perjalanan ini merupakan momen yang sangat penting bagi kami sebagai calon konselor professional dalam mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan keilmuan bimbingan dan konseling dalam tataran praktis khususnya di sekolah-sekolah di batam dan umumnya kepada seluruh komponen masyarakat yang membutuhkan di seluruh Kepulauan Riau.
Sumatera Barat adalah salah satu kiblat terpenting diluar Jawa dalam bidang keilmuan bimbingan dan konseling yang menjadi pusat study dan praktikum khususnya di Univesitas Negeri Padang dan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya.
Harapan kami sebagai konselor pemula, kita akan dapat belajar, mengasah, mengembangkan dan melakukan study banding sbagai bahan kajian dan development di LBK Unrika Batam agar dapat menmberikan sumbangsih dan kontribusi yang signifikan terhadap carut marutnya dunia pendidikan di Batam dan terhadap adanya dekadensi moral yang luar biasa terjadi di propinsi Kepulauan Riau.
Team yang akan berangkat ke padang nanti berjumlah sekitar empat atau lima orang. diantaranya adalah, Suharmanto W.P, Sarwiyanto Nugroho. W.S, Misrawati W.P, Raini W.M dan Komsiah, S.Fil. M.Si.
Rencananya akan berangkat pada tanggal 14 Januari' 2011 dengan menggunakan pesawat V.I.P dari bandara Hangnadim menuju Padang Kota.
Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan kemudahan, keberkahan dan kekuatan kepada team dalam menjalankan tugasnya sehingga mampu membawa oleh-oleh ilmu yang bermanfaat bukan saja kepada dirinya masing masing tetapi juga bermanfaat besar untuk kepentingan masyarakat luas.
Jumat, 12 November 2010
Konseling Batam/LBK Batam menuju Grand Cempaka Jakarta
Tinggal beberapa hari lagi Insya Alloh kaki ini akan segera menginjak kota Jakarta. Kota yang terkenal di dunia dengan segudang predikat, mulai dari kota macet, kota semprawut, kota terkotor dan lain2. Tetapi penulis kangen dan kangen sekali dengan kota ini. Banyak kenangan manis yang telah terukir dan bertengger dengan indahnya di sanubari hati yang paling dalam.
Terlepas dari rasa kangen yang mendalam dengan Jakarta, kali ini kami berdua sariyanto nugroho alis awi alias yanto dengan saudaraku suharmanto ingin menambah wawasan dan pencerahan mengenai Keilmuan Bimbingan dan Konseling dalam Acara Seminar Nasional yang dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Bimbingan Konseling Indonesia, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling dan Himpunan Sarjana Bimbingan dan Konseling Indonesia di Grang Cempaka Hotel. Kami ingin menambah dan mendalami bagaimana keilmuanya, proses kerjanya, pengembanganya, penerapanya dan bagaimana menyesuaikan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sarat dengan segudang persoalan yg menyertainya karena di Batam dan Kepri belum ada Lembaga Bimbingan Konseling yang dikelola secara professional.
Begitu banyaknya persoalan2 yang kami jumpai dilapangan, rupanya telah mengilhami kami untuk terus menimba keilmuan Bimbingan dan Konseling untuk kemudian menerapkanya dibatam dalam membantu seluruh lapisan masyarakat baik dalam ruang lingkup pendidikan maupun sosial masyarakat.
Semoga perjalanan kami nanti diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Alloh SWT sehingga maksud dan tujuan kami ke Jakarta ini mampu memberikan arti positif yang signifikan terhadap Masyarakat secara luas.
Terlepas dari rasa kangen yang mendalam dengan Jakarta, kali ini kami berdua sariyanto nugroho alis awi alias yanto dengan saudaraku suharmanto ingin menambah wawasan dan pencerahan mengenai Keilmuan Bimbingan dan Konseling dalam Acara Seminar Nasional yang dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Bimbingan Konseling Indonesia, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling dan Himpunan Sarjana Bimbingan dan Konseling Indonesia di Grang Cempaka Hotel. Kami ingin menambah dan mendalami bagaimana keilmuanya, proses kerjanya, pengembanganya, penerapanya dan bagaimana menyesuaikan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sarat dengan segudang persoalan yg menyertainya karena di Batam dan Kepri belum ada Lembaga Bimbingan Konseling yang dikelola secara professional.
Begitu banyaknya persoalan2 yang kami jumpai dilapangan, rupanya telah mengilhami kami untuk terus menimba keilmuan Bimbingan dan Konseling untuk kemudian menerapkanya dibatam dalam membantu seluruh lapisan masyarakat baik dalam ruang lingkup pendidikan maupun sosial masyarakat.
Semoga perjalanan kami nanti diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Alloh SWT sehingga maksud dan tujuan kami ke Jakarta ini mampu memberikan arti positif yang signifikan terhadap Masyarakat secara luas.
Label:
Konseling Sekolah Umum,
Konseling Sosial,
LBK
Kamis, 14 Oktober 2010
Konseling Batamku Unrika : dari LBK Batam ke Jakarta
Melakukan tugas belajar bagi seorang Mahasiswa memang sesuatu yang wajar dan lumrah namun apabila mahasiswa dapat melakukan sesuatu yang lebih dari itu, baru namanya luar biasa.
Kalimat diatas barangkali yang mendorong semangat dan motivasi Mahasiswa Unrika khususnya jurusan Bimbingan dan Konseling untuk berangkat menuju Jakarta mengikuti Seminar Nasional selama tiga hari guna mengasah dan meningkatkan kemampuan dalam proses Bimbingan dan Konseling dari yang sudah didapatkan di kampus Unrika Batam.
Ini bukanlah keberangkatan yang pertama bagi mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling Unrika belajar keluar kota karena sebelumnya juga sudah pernah ke Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI ) di Bandung. Sebuah Universitas Pendidikan yang sangat megah dan cukup bergengsi di Bandung. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Mereka berangkat dari Batam menuju UPI Bandung berlima dan menggunakan uang pribadi.
Ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak karena tanggungjawab belajar dan menyampaikan merupakan tugas semua komponen bangsa yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan dan demi kemajuan bangsa Indonesia. Para mahasiswa cukup mengerti dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh Unrika sehingga untuk mengcover beberapa kekurangan tersebut harus rajin dan ikhlas untuk selalu belajar keluar kota apalagi dalam waktu dekat ini Lembaga Bimbingan Konseling ( LBK )" Konseling Batamku " Unrika akan segera launching sekitar bulan November depan.
Saat ini pihak Rektorat cukup responsif terhadap keingingan ini dan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat membantu memenuhi perlengkapan yang dibutuhkan oleh LBK "Konseling Batamku" yang akan segera di operasikan tersebut.
Dalam kesempatan yang baik ini, Mahasiswa mohon perhatian dan bantuan dari semua pihak untuk dapat merealisasikan rencana tersebut sehingga LBK Unrika dapat memberikan sumbangsih keilmuan tentang Bimbingan dan Konseling terhadap para mahasisa yang membutuhkan bantuan dan layanan demi masa depannya yang lebih baik dan juga dapat membantu para siswa disekolah baik SD, SMP,SLTA maupun keluarga dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi.
Semoga mereka diberikan kekuatan lahir bathin sehingga mampu memberikan pencerahan dan bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap masyarakat Kepri khususnya permasalahan-permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan.
Kalimat diatas barangkali yang mendorong semangat dan motivasi Mahasiswa Unrika khususnya jurusan Bimbingan dan Konseling untuk berangkat menuju Jakarta mengikuti Seminar Nasional selama tiga hari guna mengasah dan meningkatkan kemampuan dalam proses Bimbingan dan Konseling dari yang sudah didapatkan di kampus Unrika Batam.
Ini bukanlah keberangkatan yang pertama bagi mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling Unrika belajar keluar kota karena sebelumnya juga sudah pernah ke Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI ) di Bandung. Sebuah Universitas Pendidikan yang sangat megah dan cukup bergengsi di Bandung. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Mereka berangkat dari Batam menuju UPI Bandung berlima dan menggunakan uang pribadi.
Ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak karena tanggungjawab belajar dan menyampaikan merupakan tugas semua komponen bangsa yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan dan demi kemajuan bangsa Indonesia. Para mahasiswa cukup mengerti dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh Unrika sehingga untuk mengcover beberapa kekurangan tersebut harus rajin dan ikhlas untuk selalu belajar keluar kota apalagi dalam waktu dekat ini Lembaga Bimbingan Konseling ( LBK )" Konseling Batamku " Unrika akan segera launching sekitar bulan November depan.
Saat ini pihak Rektorat cukup responsif terhadap keingingan ini dan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat membantu memenuhi perlengkapan yang dibutuhkan oleh LBK "Konseling Batamku" yang akan segera di operasikan tersebut.
Dalam kesempatan yang baik ini, Mahasiswa mohon perhatian dan bantuan dari semua pihak untuk dapat merealisasikan rencana tersebut sehingga LBK Unrika dapat memberikan sumbangsih keilmuan tentang Bimbingan dan Konseling terhadap para mahasisa yang membutuhkan bantuan dan layanan demi masa depannya yang lebih baik dan juga dapat membantu para siswa disekolah baik SD, SMP,SLTA maupun keluarga dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi.
Semoga mereka diberikan kekuatan lahir bathin sehingga mampu memberikan pencerahan dan bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap masyarakat Kepri khususnya permasalahan-permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan.
Minggu, 03 Oktober 2010
Tugas Konselor Menurut PP No. 74 Tahun 2008
A. Tugas Konselor
Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Jenis layanan adalah sebagai berikut:
1. Layanan orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/ madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
2. Layanan informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
3. Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
4. Layanan penguasaan konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah, keluarga, industri dan masyarakat.
5. Layanan konseling perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
6. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
7. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
8. Layanan konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik
9. Layanan mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh:
1. Aplikasi instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun nontes.
2. Himpunan data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu dan bersifat rahasia.
3. Konferensi kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
4. Kunjungan rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua atau keluarganya.
5. Tampilan kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
6. Alih tangan kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
Beban Kerja Minimum Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor
Beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta
B. Tugas Pengawas Bimbingan dan Konseling
Lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugas pokok diatur sebagai berikut:
1. Ekuivalensi kegiatan kerja pengawas bimbingan dan konseling terhadap 24 (dua puluh empat) jam tatap muka menggunakan pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau beberapa sekolah pada jenjang pendidikan yang sama atau jenjang pendidikan yang berbeda.
2. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) dan paling banyak 60 guru BK.
3. Uraian lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan Program Pengawasan Bimbingan dan Konseling
* Setiap pengawas baik secara berkelompok maupun secara perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan. Program pengawasan terdiri atas (1) program pengawasan tahunan, (2) program pengawasan semester, dan (3) rencana kepengawasan akademik (RKA).
* Program pengawasan tahunan pengawas disusun oleh kelompok pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi terprogram. Kegiatan penyusunan program tahunan ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Program pengawasan semester adalah perencanaan teknis operasional kegiatan yang dilakukan oleh setiap pengawas pada setiap sekolah tempat guru binaannya berada. Program tersebut disusun sebagai penjabaran atas program pengawasan tahunan di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan penyusunan program semester oleh setiap pengawas ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Rencana Kepengawasan Bimbingan dan Konseling (RKBK) merupakan penjabaran dari program semester yang lebih rinci dan sistematis sesuai dengan aspek/masalah prioritas yang harus segera dilakukan kegiatan supervisi. Penyusunan RKBK ini diperkirakan berlangsung 1 (satu) minggu.
* Program tahunan, program semester, dan RKBK sekurang-kurangnya memuat aspek/masalah, tujuan, indikator keberhasilan, strategi/metode kerja (teknik supervisi), skenario kegiatan, sumberdaya yang diperlukan, penilaian dan instrumen pengawasan.
b. Melaksanakan Pembinaan, Pemantauan dan Penilaian
* Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas dengan guru binaanya,
* Melaksanakan penilaian adalah menilai kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembimbingan.
* Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan, sesuai dengan uraian kegiatan dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun.
c. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pengawasan
* Setiap pengawas membuat laporan dalam bentuk laporan per sekolah dari seluruh sekolah binaan. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian tujuan dari setiap butir kegiatan pengawasan sekolah yang telah dilaksanakan pada setiap sekolah binaan,
* Penyusunan laporan oleh pengawas merupakan upaya untuk mengkomunikasikan hasil kegiatan atau keterlaksanaan program yang telah direncanakan,
* Menyusun laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan pembinaan, pemantauan atau penilaian.
d. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK.
* Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok di Musyawarah Guru Pembimbing (MGP).
* Kegiatan dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema atau jenis keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan.
* Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara¬-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan. Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK ini dapat dilakukan melalui workshop, seminar, observasi, individual dan group conference.
Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Jenis layanan adalah sebagai berikut:
1. Layanan orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/ madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
2. Layanan informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
3. Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
4. Layanan penguasaan konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah, keluarga, industri dan masyarakat.
5. Layanan konseling perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
6. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
7. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
8. Layanan konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik
9. Layanan mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh:
1. Aplikasi instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun nontes.
2. Himpunan data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu dan bersifat rahasia.
3. Konferensi kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
4. Kunjungan rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua atau keluarganya.
5. Tampilan kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
6. Alih tangan kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
Beban Kerja Minimum Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor
Beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta
B. Tugas Pengawas Bimbingan dan Konseling
Lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugas pokok diatur sebagai berikut:
1. Ekuivalensi kegiatan kerja pengawas bimbingan dan konseling terhadap 24 (dua puluh empat) jam tatap muka menggunakan pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau beberapa sekolah pada jenjang pendidikan yang sama atau jenjang pendidikan yang berbeda.
2. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) dan paling banyak 60 guru BK.
3. Uraian lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan Program Pengawasan Bimbingan dan Konseling
* Setiap pengawas baik secara berkelompok maupun secara perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan. Program pengawasan terdiri atas (1) program pengawasan tahunan, (2) program pengawasan semester, dan (3) rencana kepengawasan akademik (RKA).
* Program pengawasan tahunan pengawas disusun oleh kelompok pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi terprogram. Kegiatan penyusunan program tahunan ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Program pengawasan semester adalah perencanaan teknis operasional kegiatan yang dilakukan oleh setiap pengawas pada setiap sekolah tempat guru binaannya berada. Program tersebut disusun sebagai penjabaran atas program pengawasan tahunan di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan penyusunan program semester oleh setiap pengawas ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Rencana Kepengawasan Bimbingan dan Konseling (RKBK) merupakan penjabaran dari program semester yang lebih rinci dan sistematis sesuai dengan aspek/masalah prioritas yang harus segera dilakukan kegiatan supervisi. Penyusunan RKBK ini diperkirakan berlangsung 1 (satu) minggu.
* Program tahunan, program semester, dan RKBK sekurang-kurangnya memuat aspek/masalah, tujuan, indikator keberhasilan, strategi/metode kerja (teknik supervisi), skenario kegiatan, sumberdaya yang diperlukan, penilaian dan instrumen pengawasan.
b. Melaksanakan Pembinaan, Pemantauan dan Penilaian
* Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas dengan guru binaanya,
* Melaksanakan penilaian adalah menilai kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembimbingan.
* Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan, sesuai dengan uraian kegiatan dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun.
c. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pengawasan
* Setiap pengawas membuat laporan dalam bentuk laporan per sekolah dari seluruh sekolah binaan. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian tujuan dari setiap butir kegiatan pengawasan sekolah yang telah dilaksanakan pada setiap sekolah binaan,
* Penyusunan laporan oleh pengawas merupakan upaya untuk mengkomunikasikan hasil kegiatan atau keterlaksanaan program yang telah direncanakan,
* Menyusun laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan pembinaan, pemantauan atau penilaian.
d. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK.
* Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok di Musyawarah Guru Pembimbing (MGP).
* Kegiatan dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema atau jenis keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan.
* Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara¬-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan. Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK ini dapat dilakukan melalui workshop, seminar, observasi, individual dan group conference.
Bagaimana Menciptakan Suasana Belajar yang nyaman di kelas
Banyak sekali problematika yang dihadapai oleh pihak sekolah dan murid-murid untuk dapat belajar secara lebih efektif dan efisien. Dan ternyata situasi yang tidak kondusif tersebut justru disebabkan atau ditimbulkan oleh lemahnya pemahaman dan pengetahuan dari para pendidik di sekolah tentang bagaimana cara menciptakan situasi yang nyaman dalam proses pembelajaran di Sekolah.
Melihat dari situasi diatas memang tidak bisa kita menyalahkan para guru, kepala sekolah maupun murid-murid itu sendiri. Pemerintah juga punya peran penting terhadap situasi yang memang masih banyak sekali kita jumpai di institusi pendidikan di negara kita khususnya di Batam.
Salah satunya adalah para guru dan pendidik yang ditugaskan dalam proses pembelajaran tidak memiliki kompetensi terhadap mata pelajaran yang diajarkanya sehingga tidak mampu menyuguhkan materi secara jelas, apalagi ditambah dengan metode penyampaian yang tidak menarik maka lengkaplah situasi pembelajaran yang bukan saja tidak efektif bahkan akan cenderung membosankan dan membuat murid-murid menjadi malas belajar dikelas.
Untuk mengatasi kesulitan2 tersebut diatas memang tidak semudah mengucapkannya namun bukan berarti tidak bisa menciptakan situasi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk mencapai situasi pembelajaran seperti yang dimaksud diatas, antara lain adalah :
1. Guru atau Pendidik harus memiliki kompetensi terhadap disiplin ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya.
2. Guru harus menguasai materi yang akan diajarkannya.
3. Guru harus memiliki berbagai strategi dan media yang menyenangkan.
4. Guru memiliki parameter yang jelas dalam mengevaluasi tingkat pemahaman murid-muridnya.
5. Murid-murid harus di kondisikan agar mentalnya siap untuk belajar.
6. Murid-murid harus di kondisikan agar selalu ceria dalam proses pembelajaran.
7. Menggunakan media pembelajaran yang disepakati bersama antara guru dan murid.
8. Menciptakan suasa pembelajaran yang menyenangkan atas kesepakan dengan murid-muridnya.
9. Selalu membangun komunikasi yang indah antara pendidik dan peserta didik.
Melihat dari situasi diatas memang tidak bisa kita menyalahkan para guru, kepala sekolah maupun murid-murid itu sendiri. Pemerintah juga punya peran penting terhadap situasi yang memang masih banyak sekali kita jumpai di institusi pendidikan di negara kita khususnya di Batam.
Salah satunya adalah para guru dan pendidik yang ditugaskan dalam proses pembelajaran tidak memiliki kompetensi terhadap mata pelajaran yang diajarkanya sehingga tidak mampu menyuguhkan materi secara jelas, apalagi ditambah dengan metode penyampaian yang tidak menarik maka lengkaplah situasi pembelajaran yang bukan saja tidak efektif bahkan akan cenderung membosankan dan membuat murid-murid menjadi malas belajar dikelas.
Untuk mengatasi kesulitan2 tersebut diatas memang tidak semudah mengucapkannya namun bukan berarti tidak bisa menciptakan situasi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk mencapai situasi pembelajaran seperti yang dimaksud diatas, antara lain adalah :
1. Guru atau Pendidik harus memiliki kompetensi terhadap disiplin ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya.
2. Guru harus menguasai materi yang akan diajarkannya.
3. Guru harus memiliki berbagai strategi dan media yang menyenangkan.
4. Guru memiliki parameter yang jelas dalam mengevaluasi tingkat pemahaman murid-muridnya.
5. Murid-murid harus di kondisikan agar mentalnya siap untuk belajar.
6. Murid-murid harus di kondisikan agar selalu ceria dalam proses pembelajaran.
7. Menggunakan media pembelajaran yang disepakati bersama antara guru dan murid.
8. Menciptakan suasa pembelajaran yang menyenangkan atas kesepakan dengan murid-muridnya.
9. Selalu membangun komunikasi yang indah antara pendidik dan peserta didik.
Langganan:
Postingan (Atom)