Tugas Konselor dan Pengawas Bimbingan dan Konseling Menurut PP No. 74 Tahun 2008
A. Tugas Konselor
Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Jenis layanan adalah sebagai berikut:
1. Layanan orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/ madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
2. Layanan informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
3. Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
4. Layanan penguasaan konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah, keluarga, industri dan masyarakat.
5. Layanan konseling perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
6. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
7. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
8. Layanan konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik
9. Layanan mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh:
1. Aplikasi instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun nontes.
2. Himpunan data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu dan bersifat rahasia.
3. Konferensi kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
4. Kunjungan rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua atau keluarganya.
5. Tampilan kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
6. Alih tangan kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
Beban Kerja Minimum Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor
Beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta
B. Tugas Pengawas Bimbingan dan Konseling
Lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugas pokok diatur sebagai berikut:
1. Ekuivalensi kegiatan kerja pengawas bimbingan dan konseling terhadap 24 (dua puluh empat) jam tatap muka menggunakan pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau beberapa sekolah pada jenjang pendidikan yang sama atau jenjang pendidikan yang berbeda.
2. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) dan paling banyak 60 guru BK.
3. Uraian lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan Program Pengawasan Bimbingan dan Konseling
* Setiap pengawas baik secara berkelompok maupun secara perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan. Program pengawasan terdiri atas (1) program pengawasan tahunan, (2) program pengawasan semester, dan (3) rencana kepengawasan akademik (RKA).
* Program pengawasan tahunan pengawas disusun oleh kelompok pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi terprogram. Kegiatan penyusunan program tahunan ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Program pengawasan semester adalah perencanaan teknis operasional kegiatan yang dilakukan oleh setiap pengawas pada setiap sekolah tempat guru binaannya berada. Program tersebut disusun sebagai penjabaran atas program pengawasan tahunan di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan penyusunan program semester oleh setiap pengawas ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
* Rencana Kepengawasan Bimbingan dan Konseling (RKBK) merupakan penjabaran dari program semester yang lebih rinci dan sistematis sesuai dengan aspek/masalah prioritas yang harus segera dilakukan kegiatan supervisi. Penyusunan RKBK ini diperkirakan berlangsung 1 (satu) minggu.
* Program tahunan, program semester, dan RKBK sekurang-kurangnya memuat aspek/masalah, tujuan, indikator keberhasilan, strategi/metode kerja (teknik supervisi), skenario kegiatan, sumberdaya yang diperlukan, penilaian dan instrumen pengawasan.
b. Melaksanakan Pembinaan, Pemantauan dan Penilaian
* Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas dengan guru binaanya,
* Melaksanakan penilaian adalah menilai kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembimbingan.
* Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan, sesuai dengan uraian kegiatan dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun.
c. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pengawasan
* Setiap pengawas membuat laporan dalam bentuk laporan per sekolah dari seluruh sekolah binaan. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian tujuan dari setiap butir kegiatan pengawasan sekolah yang telah dilaksanakan pada setiap sekolah binaan,
* Penyusunan laporan oleh pengawas merupakan upaya untuk mengkomunikasikan hasil kegiatan atau keterlaksanaan program yang telah direncanakan,
* Menyusun laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan pembinaan, pemantauan atau penilaian.
d. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK.
* Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok di Musyawarah Guru Pembimbing (MGP).
* Kegiatan dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema atau jenis keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan.
* Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan. Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK ini dapat dilakukan melalui workshop, seminar, observasi, individual dan group conference.
Sebuah Lembaga Konseling yang lahir di Batam untuk membantu segala problematika yang terjadi baik pada usia dini, usia anak-anak, usia remaja maupun usia dewasa dengan Fungsi Utama pencegahan, perlindungan, pengembangan, dan memandirikan.
Selasa, 03 Agustus 2010
Teori Karier Donald Super
Donald Super mencanangkan suatu pandangan tentang perkembangan karier yang berlingkup sangat luas , karena perkembangan jabatan itu dipandang sebagai suatu proses yang mencakup banyak faktor. Faktor tersebut untuk sebagian terdapat pada individu sendiri dan untuk sebagian terdapat dalam lingkungan hidupnya yang semuanya berinteraksi satu sama lain dan bersama-sama membentuk proses perkembangan karier seseorang. Pilihan jabatan merupakan suatu perpaduan dari aneka faktor pada individu sendiri seperti kebutuhan , sifat-sifat kepribadian , serta kemampuan intelektual , dan banyak faktor di luar individu , seperti taraf kehidupan sosial-ekonomi keluarga , variasi tuntutan lingkungan kebudayaan , dan kesempatan/kelonggaran yang muncul. Titik berat dari hal-hal tersebut diatas terletak pada faktor-faktor pada individu sendiri.
Donald Super menaruh perhatian pada psikologi diferensial sebagai cabang ilmu psikologi yang mempelajari perbedaan bermakna antara individu-individu , antara lain dengan menggunakan alat-alat tes untuk memperoleh data tentang berbagai ciri kepribadian yang jelas mempunyai kaitan dengan memegang suatu jabatan , seperti kemampuan intelektual , bakat khusus , minat , dan sifat-sifat kepribadian. Donald Super mengakui sumbangan positif dari teori Trait and Factor, yang untuk sebagian bergerak dalam psikologi diferensial (differential psychology). Data hasil testing psikologis (measurement, assessment) memungkinkan untuk memperoleh gambaran agak objektif tentang seseorang dalam perbandingan dengan orang lain (appraisal, evaluation).
Unsur yang mendasar dalam pandangan Donald Super adalah konsep diri atau gambaran diri sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan dan jabatan yang akan dipegang (vocational self-concept) yang merupakart sebagian dari keseluruhan gambaran tentang diri sendiri. Data hasil penelitian memberikan indikasi yang kuat bahwa gambaran diri yang vokasional berkembang selama pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif ; perkembangan ini berlangsung melalui observasi terhadap orang-orang yang memegang jabatan tertentu , melalui identifikasi dengan orang-orang dewasa yang sudah bekerja , melalui penghayatan pengalaman hidup , dan melalui pengaruh yang diterima dari lingkungan hidup. Penyadaran kesamaan dan perbedaan di antara diri sendiri dan semua orang lain , akhirnya terbentuk suatu gambaran diri yang vokasional. Gambaran diri ini menumbuhkan dorongan internal yang mengarahkan seseorang ke suatu bidang jabatan yang memungkinkan untuk mencapai sukses dan merasa puas (vocational satisfication). Hal ini menyebabkan seseorang mampu mewujudkan gambaran diri dalam suatu bidang jabatan yang paling memungkinkan untuk mengekspresikan diri sendiri , misalnya : seorang muda yang memandang dirinya sebagai orang yang berkemampuan tinggi , berjiwa mengabdi , dan rela mcngorbankan dirinya , serta dibesarkan dalam keluarga yang telah mencetak beberapa dokter dan memperoleh kesan serba positif tentang perkembangan seorang dokter , akhirnya membentuk gambaran diri yang membayangkan dirinya sendiri sebagai seorang dokter yang ulung dan tulen.
Proses perkembangan karier dibagi atas lima tahap, yaitu :
1. Tahap Pengembangan (Growth) mulai dari saat lahir sampai umur lebih kurang 15 tahun à anak mengembangkan berbagai potensi , pandangan khas , sikap , minat , dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam struktur gambaran diri (self-concept structure)
2. Tahap Eksplorasi (Exploration) dari umur l5 sampai 24 tahun à orang muda memikirkan berbagai alternatif jabatan , tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat.
3. Tahap Pemantapan (Establishment) dari umur 25 sampai 44 tahun à bercirikan usaha tekun memantapkan diri melalui seluk-beluk pengalaman selama menjalani karier tertentu.
4. Tahap Pembinaan (Maintenance) dari umur 45 tahun sampai 64 tahun à orang yang sudah dewasa menyesuaikan diri dalam penghayatan jabatannya.
5. Tahap Kemunduran (Decline) à orang memasuki masa pensiun dan harus menemukan pola hidup baru sesudah melepaskan jabatannya.
Kelima tahap ini dipandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan perilaku yang menyangkut keterlibatan dalam suatu jabatan , yang tampak dalam tugas-tugas perkembangan karier (vocational developmental tasks).
Pada masa-masa tertentu dalam hidupnya individu dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan karier tertentu , yaitu :
a. Perencanaan garis besar masa depan (Crystalization) antara 14-18 tahun yang terutama bersifat kognitif dengan meninjau diri sendiri dan situasi hidupnya.
b. Penentuan (Specification) antara umur 18-24 tahun yang bercirikan mengarahkan diri ke bidang jabatan tertentu dan mulai memegang jabatan itu.
c. Pemantapan (Establishment) antara 24-35 tahun yang bercirikan membuktikan diri mampu memangku jabatan yang terpilih.
d. Pengakaran (Consolidation) sesudah umur 35 tahun sampai masa pensiun yang bercirikan mencapai status tertentu dan memperoleh senioritas.
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier , Super mengembangkan konsep kematangan vokasional (career maturity ; vocational maturity) yang menunjuk pada keberhasilan seseorang menyelasaikan semua tugas perkemlbangan vokasional yang khas bagi tahap perkembangan tertentu. Indikasi relevan bagi kematangan vokasional adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana , kerelaan untuk memikul tanggung jawab , serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan. Beraneka indikasi ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-masing tahap perkembangan vokasional , lebih-lebih selama masa remaja dan masa dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan menilai kematangan vokasional telah dikembangkan alat tes yang dikenal dengan nama Career Development Inventory , Career Maturity Test , dan Vocational Maturity Test.
Beberapa karya tulis Super yang terkenal adalah The Psychology of Careers (l957) , Work Values Inventory (1970) , Appraising Vocational Fitness by Means of Psychological Tests (1962) , Career Development: Self-Concept Theory (1963) , Measuring Vocational Maturity for Counseling and Evaluation (1974) , dan Career and Life Development (1984). Hal yang menarik perhatian ialah pernyataan Super dalam karya tulis terakhir bahwa teori tentang self-concept adalah "Essentially a matching theory in which individuals consider both their own attributes and the attributes required by an occupation". Gagasan ini mirip dengan teori Trait and Factor, meskipun pada Super mengandung makna yang lebih komprehensif.
Pandanga:n Super oleh banyak pakar Psikologi Vokasional dinilai sebagai teori yang paling komprehensif dan mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian. Pandangan Super mengandung beberapa implikasi bagi pendidikan karier dan konseling karier yang sangat relevan. Konsepsi Super tentang gambaran diri dan kematangan vokasional menjadi pegangan bagi seorang tenaga kependidikan bila merancang program pendidikan karier dan bimbingan karier , yang membawa orang muda ke pemahaman diri dan pengolahan informasi tentang dunia kerja , selaras dengan tahap perkembangan karier tertentu.
KEPUSTAKAAN
Manrihu, Muhammad Thayeb . 1992 . Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier . Jakarta . Bumi Aksara
Donald Super mencanangkan suatu pandangan tentang perkembangan karier yang berlingkup sangat luas , karena perkembangan jabatan itu dipandang sebagai suatu proses yang mencakup banyak faktor. Faktor tersebut untuk sebagian terdapat pada individu sendiri dan untuk sebagian terdapat dalam lingkungan hidupnya yang semuanya berinteraksi satu sama lain dan bersama-sama membentuk proses perkembangan karier seseorang. Pilihan jabatan merupakan suatu perpaduan dari aneka faktor pada individu sendiri seperti kebutuhan , sifat-sifat kepribadian , serta kemampuan intelektual , dan banyak faktor di luar individu , seperti taraf kehidupan sosial-ekonomi keluarga , variasi tuntutan lingkungan kebudayaan , dan kesempatan/kelonggaran yang muncul. Titik berat dari hal-hal tersebut diatas terletak pada faktor-faktor pada individu sendiri.
Donald Super menaruh perhatian pada psikologi diferensial sebagai cabang ilmu psikologi yang mempelajari perbedaan bermakna antara individu-individu , antara lain dengan menggunakan alat-alat tes untuk memperoleh data tentang berbagai ciri kepribadian yang jelas mempunyai kaitan dengan memegang suatu jabatan , seperti kemampuan intelektual , bakat khusus , minat , dan sifat-sifat kepribadian. Donald Super mengakui sumbangan positif dari teori Trait and Factor, yang untuk sebagian bergerak dalam psikologi diferensial (differential psychology). Data hasil testing psikologis (measurement, assessment) memungkinkan untuk memperoleh gambaran agak objektif tentang seseorang dalam perbandingan dengan orang lain (appraisal, evaluation).
Unsur yang mendasar dalam pandangan Donald Super adalah konsep diri atau gambaran diri sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan dan jabatan yang akan dipegang (vocational self-concept) yang merupakart sebagian dari keseluruhan gambaran tentang diri sendiri. Data hasil penelitian memberikan indikasi yang kuat bahwa gambaran diri yang vokasional berkembang selama pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif ; perkembangan ini berlangsung melalui observasi terhadap orang-orang yang memegang jabatan tertentu , melalui identifikasi dengan orang-orang dewasa yang sudah bekerja , melalui penghayatan pengalaman hidup , dan melalui pengaruh yang diterima dari lingkungan hidup. Penyadaran kesamaan dan perbedaan di antara diri sendiri dan semua orang lain , akhirnya terbentuk suatu gambaran diri yang vokasional. Gambaran diri ini menumbuhkan dorongan internal yang mengarahkan seseorang ke suatu bidang jabatan yang memungkinkan untuk mencapai sukses dan merasa puas (vocational satisfication). Hal ini menyebabkan seseorang mampu mewujudkan gambaran diri dalam suatu bidang jabatan yang paling memungkinkan untuk mengekspresikan diri sendiri , misalnya : seorang muda yang memandang dirinya sebagai orang yang berkemampuan tinggi , berjiwa mengabdi , dan rela mcngorbankan dirinya , serta dibesarkan dalam keluarga yang telah mencetak beberapa dokter dan memperoleh kesan serba positif tentang perkembangan seorang dokter , akhirnya membentuk gambaran diri yang membayangkan dirinya sendiri sebagai seorang dokter yang ulung dan tulen.
Proses perkembangan karier dibagi atas lima tahap, yaitu :
1. Tahap Pengembangan (Growth) mulai dari saat lahir sampai umur lebih kurang 15 tahun à anak mengembangkan berbagai potensi , pandangan khas , sikap , minat , dan kebutuhan-kebutuhan yang dipadukan dalam struktur gambaran diri (self-concept structure)
2. Tahap Eksplorasi (Exploration) dari umur l5 sampai 24 tahun à orang muda memikirkan berbagai alternatif jabatan , tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat.
3. Tahap Pemantapan (Establishment) dari umur 25 sampai 44 tahun à bercirikan usaha tekun memantapkan diri melalui seluk-beluk pengalaman selama menjalani karier tertentu.
4. Tahap Pembinaan (Maintenance) dari umur 45 tahun sampai 64 tahun à orang yang sudah dewasa menyesuaikan diri dalam penghayatan jabatannya.
5. Tahap Kemunduran (Decline) à orang memasuki masa pensiun dan harus menemukan pola hidup baru sesudah melepaskan jabatannya.
Kelima tahap ini dipandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan perilaku yang menyangkut keterlibatan dalam suatu jabatan , yang tampak dalam tugas-tugas perkembangan karier (vocational developmental tasks).
Pada masa-masa tertentu dalam hidupnya individu dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan karier tertentu , yaitu :
a. Perencanaan garis besar masa depan (Crystalization) antara 14-18 tahun yang terutama bersifat kognitif dengan meninjau diri sendiri dan situasi hidupnya.
b. Penentuan (Specification) antara umur 18-24 tahun yang bercirikan mengarahkan diri ke bidang jabatan tertentu dan mulai memegang jabatan itu.
c. Pemantapan (Establishment) antara 24-35 tahun yang bercirikan membuktikan diri mampu memangku jabatan yang terpilih.
d. Pengakaran (Consolidation) sesudah umur 35 tahun sampai masa pensiun yang bercirikan mencapai status tertentu dan memperoleh senioritas.
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier , Super mengembangkan konsep kematangan vokasional (career maturity ; vocational maturity) yang menunjuk pada keberhasilan seseorang menyelasaikan semua tugas perkemlbangan vokasional yang khas bagi tahap perkembangan tertentu. Indikasi relevan bagi kematangan vokasional adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana , kerelaan untuk memikul tanggung jawab , serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan. Beraneka indikasi ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-masing tahap perkembangan vokasional , lebih-lebih selama masa remaja dan masa dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan menilai kematangan vokasional telah dikembangkan alat tes yang dikenal dengan nama Career Development Inventory , Career Maturity Test , dan Vocational Maturity Test.
Beberapa karya tulis Super yang terkenal adalah The Psychology of Careers (l957) , Work Values Inventory (1970) , Appraising Vocational Fitness by Means of Psychological Tests (1962) , Career Development: Self-Concept Theory (1963) , Measuring Vocational Maturity for Counseling and Evaluation (1974) , dan Career and Life Development (1984). Hal yang menarik perhatian ialah pernyataan Super dalam karya tulis terakhir bahwa teori tentang self-concept adalah "Essentially a matching theory in which individuals consider both their own attributes and the attributes required by an occupation". Gagasan ini mirip dengan teori Trait and Factor, meskipun pada Super mengandung makna yang lebih komprehensif.
Pandanga:n Super oleh banyak pakar Psikologi Vokasional dinilai sebagai teori yang paling komprehensif dan mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian. Pandangan Super mengandung beberapa implikasi bagi pendidikan karier dan konseling karier yang sangat relevan. Konsepsi Super tentang gambaran diri dan kematangan vokasional menjadi pegangan bagi seorang tenaga kependidikan bila merancang program pendidikan karier dan bimbingan karier , yang membawa orang muda ke pemahaman diri dan pengolahan informasi tentang dunia kerja , selaras dengan tahap perkembangan karier tertentu.
KEPUSTAKAAN
Manrihu, Muhammad Thayeb . 1992 . Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier . Jakarta . Bumi Aksara
Konsultasi Psikologi (Konseling)
Konsultasi psikologi atau yang biasa disebut konseling adalah suatu proses interaksi antara pihak yang membutuhkan bantuan (disebut konseli/klien) dengan pihak yang mendapat keterampilan khusus memberi bantuan (disebut konselor/helper) dalam suatu hubungan yang formal dan profesional
Adapun faktor pendorong terjadinya proses konseling adalah:
# Pada diri individu, yaitu adanya masa-masa kritis dalam setiap masa perkembangan individu, terutama masa remaja.
#
Pada kondisi luar individu, misalnya perkembangan teknologi, nilai-nilai demokratis, nilai humanis versus pragmatis, nilai etika pergaulan, kondisi struktural dalam pendidikan dan kerja, transmigrasi dan urbanisasi, hubungan keluarga dalam arti fisik dan psikis
Sedangkan tugas konselor adalah mencari alternatif-alternatif yang dapat membantu pasien dalam upaya meninggalkan pola lama, memfasilitasi proses pengambilan keputusan dan mendapatkan solusi masalah yang lebih tepat. jadi, konseling akan berlangsung dalam sesi-sesi sebagai berikut :
1. Memulai mendefinisikan masalah.
2. Melanjutkannya dengan mencari alternatif.
3. Mengambil keputusan terhadap pilihan satu alternatif pemecahan masalah dan mengaplikasikan pilihan tersebut.
Seorang konselor harus tetap bersikap profesional dalam situasi apapun dan dengan siapapun. Seorang konselor tidak diperkenankan memberikan sugesti-sugesti tertentu yang dapat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, dan persepsi secara terpaksa. Ataupun membuat pasien semakin terancam secara psikis
Konselor harus dapat membuat pasien merasa nyaman berkonsultasi pada konselor tersebut, karena tujuan utama dilakukannya konseling pada pasien adalah untuk mempengaruhi perubahan tingakah laku secara sadar, memudahkan perubahan tingkah laku melalui interview, mendengarkan dengan penuh perhatian, membantu orang lain untuk pemahaman diri, pembuatan keputusan / pemecahan masalah, sehingga pasien tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak diri ataupun merugikan orang lain.
Konsultasi psikologi atau yang biasa disebut konseling adalah suatu proses interaksi antara pihak yang membutuhkan bantuan (disebut konseli/klien) dengan pihak yang mendapat keterampilan khusus memberi bantuan (disebut konselor/helper) dalam suatu hubungan yang formal dan profesional
Adapun faktor pendorong terjadinya proses konseling adalah:
# Pada diri individu, yaitu adanya masa-masa kritis dalam setiap masa perkembangan individu, terutama masa remaja.
#
Pada kondisi luar individu, misalnya perkembangan teknologi, nilai-nilai demokratis, nilai humanis versus pragmatis, nilai etika pergaulan, kondisi struktural dalam pendidikan dan kerja, transmigrasi dan urbanisasi, hubungan keluarga dalam arti fisik dan psikis
Sedangkan tugas konselor adalah mencari alternatif-alternatif yang dapat membantu pasien dalam upaya meninggalkan pola lama, memfasilitasi proses pengambilan keputusan dan mendapatkan solusi masalah yang lebih tepat. jadi, konseling akan berlangsung dalam sesi-sesi sebagai berikut :
1. Memulai mendefinisikan masalah.
2. Melanjutkannya dengan mencari alternatif.
3. Mengambil keputusan terhadap pilihan satu alternatif pemecahan masalah dan mengaplikasikan pilihan tersebut.
Seorang konselor harus tetap bersikap profesional dalam situasi apapun dan dengan siapapun. Seorang konselor tidak diperkenankan memberikan sugesti-sugesti tertentu yang dapat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, dan persepsi secara terpaksa. Ataupun membuat pasien semakin terancam secara psikis
Konselor harus dapat membuat pasien merasa nyaman berkonsultasi pada konselor tersebut, karena tujuan utama dilakukannya konseling pada pasien adalah untuk mempengaruhi perubahan tingakah laku secara sadar, memudahkan perubahan tingkah laku melalui interview, mendengarkan dengan penuh perhatian, membantu orang lain untuk pemahaman diri, pembuatan keputusan / pemecahan masalah, sehingga pasien tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak diri ataupun merugikan orang lain.
Senin, 21 Juni 2010
Laporan wawancara konseling
LAPORAN HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI KASUS PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) WACHID HASYIM
PARENGAN – MADURAN – LAMONGAN
BAGIAN I
LATAR BELAKANG MASALAH
A. IDENTITAS SISWA
Nama : M
Tempat & Tanggal Lahir : Lamongan 22 Desember 1990
Alamat : Jl. Mangga 28 Maduran
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Agama : Islam
Kelas : 2 A
Orang tua : H
Pekerjaan : Petani
B. PELANGGARAN YANG DILAKUKAN
Sering membolos sekolah
C. SUMBER INFORMASI
Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim. Berdasar data dari guru BK. Saudara As’ad tercatat rata-rata membolos 4 -5 kali dalam satu bulan.
D. TUJUAN DILAKUKANNYA WAWANCARA DAN OBSERVASI
1. Tujuan khusus : Untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos saudara As’ad dan untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.
2. Tujuan umum : Hasil wawancara dan observasi ini, nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan sebuah program yang bertujuan untuk meminimalisasi prevalensi perilaku membolos sekolah pada siswa-siswi SMA Wahid Hasyim. Mengingat sebagai suatu komunitas, tentunya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain banyak memiliki kesamaan, baik dari segi fase perkembangan, status sosial orang tua, dan tingkat ekonomi. Sehingga hasil wawancara dan observasi terhadap saudara As’ad ini nantinya akan dapat digunakan sebagai dasar yang relevan dalam menentukan sebuah program penanganan untuk mengurangi prevalensi perilaku membolos pada siswa-siswi SMA Wachid Hasyim.
BAGIAN II
TEORI RUJUKAN
REMAJA
Masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Calon (1953) dalam Monks (2002) mengatakan masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak, karena secara fisik mereka sudah seperti orang dewasa. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Monsk, 2002). Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberiikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut (Sarwono, 2001):
Remaja adalah suatu masa dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
DELINKUEN
Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio dalam (Sarwono, 2001) mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat (Pusda Depsos RI, 1999). B. Simanjutak dalam (Sudarsono, 1995) memberii tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif. Psikolog Bimo Walgito dalam (Sudarsono, 1995) merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja. Sementara John W. Santrock (1995) mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).
BENTUK- BENTUK KENAKALAN
William C. Kvaraceus dalam (Mulyono, 1995) membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu:
1. Kenakalan bisaa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberii pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.
2. Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.
FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN
Menurut Kartini Kartono (1998), Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang.
Kartini Kartono (1998) membagi faktor penyebab perilaku delinkuen menjadi dua bagian sebagai berikut:
FAKTOR INTERNAL
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa:
1. Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.
2. Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.
3. Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh:
1. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
2. Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
3. Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
4. Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983 dalam Sarwono, 2001).
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat (Tambunan, 2008).
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
faktor-faktor internal penyebab perilaku delinkuen
1). Reaksi frustrasi negatif
2). Gangguan pengamatan dan tanggapan
Faktor internal
3). Gangguan cara berfikir
4). Gangguan emosional atau perasaan
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 120.
FAKTOR EKSTERNAL
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti (Kartono, 1998):
1. Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
2. Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
3. Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
4. Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku delinkuen
1.1. Broken home
1.2. Perlindungan lebih
1). Faktor keluarga
1.3. Penolakan orang tua
Faktor eksternal 1.4. Pengaruh buruk dari
orang tua
2). Faktor sekolah
3). Milieu
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 126.
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001.
Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah 'a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya (Gialombardo, 1972 dalam Suyatno, 2008):
1. Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
2. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.
3. Proses mempelajari perilaku bisaanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini bisaanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.
a. Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
b. Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan psikologis anak digambarkan oleh Hasbullah M. Saad (2003) dalam bukunya Perkelahian Pelajar seperti dibawah ini:
Model umum pengaruh kondisi lingkungan terhadap
Perkembangan psikologis anak
Lingkungan makro
Karakter anak
Atensi
Karakter keluarga Interaksi antar perhatian ibu dengan anak
Mainutris
Perkembangan psikologis
Sumber: Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003), hal. 32.
BAGIAN III
WAWANCARA & OBSERVASI UNTUK TUJUAN ASSESMENT
Dasar-dasar teori diatas kemudian dijadikan sebagai acuan untuk membuat guide interview & check-List untuk mendapatkan informasi mengenahi latar belakang masalah yang sedang dihadapi oleh saudara As’ad (Perilaku membolos).
1. HASIL OBSERVASI
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI KONDISI SUBJEK SAAT INI
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Cara berpakaian sangat rapi
cukup
Tdk rapi
2. Sopan Santun baik
cukup
kurang
3. Pergaulan baik
cukup
kurang
4. Keseriusan dalam mengikuti pelajaran baik
cukup
kurang
5. Mencatat materi pelajaran selalu
kadang2
tdk pernah
6. Membolos sekolah sering
kadang 2
tdk pernah
7. Mengikuti kegiatan ekstra selalu
kadang 2
tdk pernah
8. Mematuhi peraturan sekolah selalu
kadang 2
tdk pernah
9. Cara berinteraksi dengan teman. baik
cukup
kurang
10. Menggunakan bahasa yang positif. selalu
kadang 2
tdk pernah
11. Duduk di barisan depan selalu
kadang 2
tdk pernah
12. Ikut serta dalam diskusi kelas selalu
kadang 2
tdk pernah
Keterangan:
Berilah tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi siswa saat ini.
Untuk penilaian membolos sekolah:
1. Sering (setiap dua minggu ada 1 hari yang tidak masuk).
2. Kadang-kadang (dalam 1 bulan ada 1 hari yang membolos).
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI HUBUNGAN
SUBJEK DENGAN ORANG TUA
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Perhatian orang tua baik
cukup
kurang
2. Komunikasi baik
cukup
kurang
3. Cara orang tua berinteraksi dengan anak. baik
cukup
kurang
4. Cara anak berinteraksi dengan orang tua. baik
cukup
kurang
5. Patuh terhadap aturan orang tua. selalu
kadang2
tdk pernah
6. Menghormati orang tua selalu
kadang 2
tdk pernah
7. Penghargaan orang tua terhadap pendapat anak. baik
cukup
kurang
8. Model pendidikan ortu otoriter
demokratis
Keterangan:
Beri tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi
siswa saat ini.
Observasi disekolah dilakukan pada tanggal 24, 31 Mei & 7 Juni dan observasi rumah dilakukan pada tanggal 25 Mei, 1 Juni dan 8 Juni, adapun untuk aspek penilaian membolos sekolah digunakan data absensi kelas. Hasil observasi menunjukkan As’ad adalah termasuk siswa yang tidak begitu disukai oleh teman-teman temannya karena As’ad dalam berkomunikasi dengan teman-temannya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang tidak positif seperti kata “jancuk” dan lain sebagainya. Cara berpakaian As’ad juga tidak rapi, bajunya tidak pernah dimasukkan dan rambutnya panjang. Selain itu As’ad juga tidak memiliki sopan santun terhadap guru, ketika berada di dalam kelas A’ad selalu membuat gaduh saat pelajaran sedang berlangsung, tidak pernah mencatat materi yang diberikan oleh guru, tidak pernah mengikuti diskusi dan selalu duduk paling belakang. As’at juga terkenal sebagai siswa yang tidak pernah patuh terhadap peraturan-oeraturan sekolah, seperti tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra, selalu membolos dan tidak pernah serius dalam mengikuti pelajaran.
Orang tua As’ad terlalu bersikap otoriter dalam mendidik anak-anaknya terlebih terhadap As’ad karena As’ad tidak pernah patuh dan menghormati aturan-aturan yang ada dalam keluarga. Cara berinteraksi As’ad dengan orang tua atau sebaliknya orang tua dengan As’ad tergolong kurang baik. Dalam lingkungan keluarga As’ad kurang mendapat penghargaan dari orang tua dan kurang diperhatikan, karena orang tua As’ad tidak pernah mau tau terhadap masalah As’ad, yang ada As’ad selalu mendapat marah dari orang tua.
2. HASIL WAWANCARA
Wawancara dilakukan pada tanggal 14 Juni, karena keterbatasan waktu wawancara hanya dilakukan kepada As’ad untuk melengkapi hasil observasi. Adapun hasil wawancara dengan As’ad secara verbatim disajikan dibawah ini:
Baris Isi wawancara Baris Masalah Yang Ditemukan
1
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
105
110
115
119 + Selamat siang mas As’ad
++ Siang pak! (agak tidak suka)
+ maaf mengganggu belajar mas As’ad sebentar
++ tidak apa-apa pak
+ terima kasih. Kalau boleh tau sepulang dari sekolah bisaanya apa kegiatan mas As’ad?
++ bisaanya saya tidak langsung pulang pak, mampir kewarung kopi dulu, baru pulang
+ kenapa mas As’ad tidak langsung pulang dan lebih memilih kewarung kopi dulu?
++ dari pada di rumah dimarahi terus sama orang tua pak, lebih baik kewarung kopi bisa kumpul dengan teman-teman yang lain.
+ bisaanya kewarung kopi mana dan apa yang mas As’ad lakukan di sana?
++ warung kopinya di Maduran Pak di desa saya sendiri, ya Cuma nongkrong saja Pak, kadang-kadang ya sambil main remi (main kartu).
+ sepulang dari warung kopi, apa As’ad juga ikut mengaji di mushollah, saya dapat informasi dari sekolah katanya bapak anda pak haji?
++ yang haji kan orang tua saya pak. Bisaanya ya tidur pak kalau tidak ada acara keluar dengan teman.
+ kalau begitu kapan As’ad belajar?
++ tidak pernah belajar pak, belajar juga buat apa, wong saya ini tidak pernah diperhatikan oleh orang tua saya kok.
+ masuk As’ad tidak memperhatikan?
++ saya itu sebenarnya kepingin masuk ke STM (Sekolah Teknik Mesin), tapi orang tua tidak pernah mau mendengarkan keinginan saya dan akhirnya saya sekolah di SMA Wachid Hasyim ini pak.
+ kalau boleh tau apa yang menjadi alasan orang tua As’ad lebih memilih SMA daripada STM?
++ orang tua saya itu kepinginnya saya jadi guru agama, saya pernah dipondokkan di pesantren Langitan Tuban tapi saya tidak kerasan.
+ apa karena tidak boleh masuk STM itu yang membuat As’ad selalu membolos sekolah?
++ iya pak, lawong saya itu tidak berminat sekolah diselain STM, ya mau bagaimana lagi pak, saya itu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
+ As’ad bisa bertanya pada teman-teman yang lain kan?
++ teman-teman tidak ada yang suka dengan saya pak, soalnya kata teman-teman saya itu kalau bicara arogan. Makanya saya sering bolos karena saya tidak punya teman di sekolah, lebih baik saya kewarung kopi banyak yang menghargai saya.
+ apa As’ad tidak merasa rugi kalau As’ad selalu membolos sekolah?
++ tidak pak buat apa wong saya memang sudah tidak suka sekolah disini. Kalau orang tua saya mau memindahkan ke STM ya saya akan rajin sekolah pak.
+ belajar mesin kan tidak hanya di sekolah, As’ad bisa ambil kursus mesin sambil tetap sekolah. Selain As’ad senang orang tua As’ad juga senang. Apa As’ad tidak pernah coba membicarakan kepada orang tua As’ad?
++ saya itu jarang bicara dengan orang tua saya pak, begitu juga dengan orang tua saya. Paling-paling kalau mau marahi atau menyuruh saya saja baru bicara. Mereka itu tidak pernah mau tau dengan keinginan anak-naknya. Makanya kakak saya dulu juga sering dapat masalah di sekolah seperti saya ini.
+ jadi komunikasi As’ad dengan orang tua selama ini bagaimana?
++ ya seperti yang saya bilang tadi pak.
+ menurut informasi dari guru BK, As’ad juga tidak punya sopan santun pada guru dan tidak pernah ikut kegiatan ekstra kulikuler, apa benar demikian?
++ saya tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karena tidak ada yang saya sukai pak, jadi buat apa saya ikut. Kalau tidak sopan dengan para guru….saya sopan kok pak (defend)
+ pernah tidak As’ad bicara sendiri saat pelajaran berlangsung?
++ sering pak, saya tidak suka dengan pelajarannya makanya saya tidak mau mendengarkan pak.
+ apa As’ad selalu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh pak guru?
++ tidak pak.
+ baik, apa alasan As’ad tidak pernah memasukkan baju dan berambut panjang?
++ biar keren pak, biar kelihatan macho, kalau tidak begini tidak ada cewek yang naksir saya donk pak, sudah bodoh dan tidak keren. Kalau begini kan keren pak.
+ lalu apa yang membuat As’ad tidak pernah mematuhi peraturan orang tua?
++ mereka juga tidak pernah memperhatikan saya pak.
+ maksud As’ad?
++ mereka kan maunya menang sendiri. Mereka juga tidak pernah memberii penghargaan atas prestasi saya. Saya pernah menag juara 1 dalam lomba menggambar tingkat kecamatan. Semua teman memberii ucapan selama. Tapi orang tua saya bisaa saja dan tidak menghargai saya.
+ baik, kalau begitu untuk sementara cukup dulu. Terima kasih dan minggu depan saya akan memanggil As’ad lagi untuk mendengarkan keinginan-keinginana As’ad yang nanti akan saya sampaikan kepada orang tua As’ad. Bagaimana anda bersedia.
++ asalkan untuk saya pak.
+ baik.
5 – 9
12
21 – 26
26 – 28
31 -34
40 – 45
50 -53
55 – 60
65-70
80 -84
85 – 89
90 – 93
95-100
103-105
105-110
Keluyuran
Selalu dimarahi ortu
Tidak mau mengikuti aturan orang tua.
Tidak pernah belajar
Tidak suka dengan sekolahnya.
Membolos sekolah
Tidak bisa mengikuti pelajaran.
Tidak disukai oleh teman
Tidak punya motivasi
Komunikasi dengan orang tua tidak baik.
Tidak pernah ikut ekstra kulikuler
Tidak mendengarkan guru
Tidak pernah mengrjakan PR
Tidak pernah berpakaian rapi
Tidak diperhatikan orang tua
Tidak pernah dihargai orang tua
Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku membolos sekolah saudara As’ad disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Faktor internal
Faktor emosi, dalam hal ini adalah ketidak mampuan subjek secara emosi dalam mensikapi perlakuan orang tua yang terlalu otoriter dan tidak memberi ruang diskusi pada subjek. Sehingga subjek merespon sikap orang tua yang demikian dengan melakukan perilaku-perilaku yang melanggar aturan-aturan keluarga dan aturan-aturan sekolah. Ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono (1998), bahwa gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
Ketidak mampuan subjek dalam melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah. Philip Graham (1983) menjelaskan bahwa factor ketidak mampuan subjek dalam menyesuaikan diri juga dapat menyebabkan perilaku delinkuen.
Reaksi frustrasi. Dalam hal ini adalah ketidak puasan subjek terhadap keputusan memasukkan dirinya ke sekolah SMA, yang kemudian direspon secara negative oleh subjek, seperti tidak mau memperhatikan guru dan membolos.
2. Faktor eksternal
Pola asuh keluarga yang otoriter. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Santrock, menurutnya faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001).
Lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang belum memiliki tenaga Psikolog membuat As’ad cuma menjadi bahan cemoohan dan tidak mendapat problem solving yang tepat, akibatnya As’ad cenderung menarik diri dari pergaulan sekolah dan lebih memilih bergaul dengan remaja-remaja yang nongkrong diwarung kopi.
BAGIAN IV
PENANGANAN KASUS
UNTUK TUJUAN PENYELESAIAN MASALAH AS’AD
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh As’ad. Dapat dilakukan konseling kepada As’ad yang berorientasi pada menumbuhkan kesadaran pada diri subjek bahwa cara dirinya mensikapi pendidikan orang tuanya yang terlalu otoriter itu kurang tepat, karena langkah yang diambil oleh subjek justeru merugikan diri subjek sendiri. Selain itu konseling juga diarahkan pada menjadikan subjek sebagai orang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan teknik-teknik konfrontasi dengan pendekatan RET (Rational Emotif) dan Pendekatan Realitas akan mampu membantu subjek menyelesaikan masalahnya secara positif dan konstruktif.
Selain itu, konseling juga dilakukan kepada kedua orang tua As’ad, untuk memberii pengertian kepada mereka akan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Selain itu konseling ditujukan untuk memberi pengertian kepada orang tua, bahwa sangat disarankan kepada orang tua untuk menempatkan anak pada pendidikan yang sesuai dengan minat anak. Berkaitan dengan masalah As’ad orang tua dapat disarankan untuk mencarikan solusi alternative untuk mengembangkan potensi yang dimiliki As’ad, dengan memasukkan As’ad pada kursus Teknik Mesin.
UNTUK TUJUAN MEMINIMALISASI PREVALENSI MEMBOLOS PADA SISWA SMA WACHID HASYIM
Untuk tujuan diatas, dapat dibuat program kegiatan semisal seminar tentang pendidikan anak yang diperuntukkan untuk para orang tua yang anaknya memiliki masalah di sekolah dan dapat dibuat program seminar tentang pentingnya management diri untuk mencapai kesuksesan dimasa depan yang diperuntukkan bagi para siswa yang bermasalah.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Kartono., Kartini, 1998, Patologi Sosial 2, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Mulyono., Y. Bambang, 1995, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Yogyakarta:Kanisius.
Saad., Hasbullah M., 2003, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Yogyakarta:Galang Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Sarwono., Sarlito Wirawan, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Sudarsono, 1995, Kenakalan Remaja, Jakarta:Rineka Cipta.
Tambunan., Raimon, Perkelahian Pelajar, http// e-psikologi.com, diakses 20 Mei 2008.
Suyatno., Bagong, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, http://bkkbn.go.id, diakses 20 Mei 2008.
PARENGAN – MADURAN – LAMONGAN
BAGIAN I
LATAR BELAKANG MASALAH
A. IDENTITAS SISWA
Nama : M
Tempat & Tanggal Lahir : Lamongan 22 Desember 1990
Alamat : Jl. Mangga 28 Maduran
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Agama : Islam
Kelas : 2 A
Orang tua : H
Pekerjaan : Petani
B. PELANGGARAN YANG DILAKUKAN
Sering membolos sekolah
C. SUMBER INFORMASI
Informasi diperoleh dari guru BK SMA Wachid Hasyim. Berdasar data dari guru BK. Saudara As’ad tercatat rata-rata membolos 4 -5 kali dalam satu bulan.
D. TUJUAN DILAKUKANNYA WAWANCARA DAN OBSERVASI
1. Tujuan khusus : Untuk mengetahui latar belakang perilaku membolos saudara As’ad dan untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.
2. Tujuan umum : Hasil wawancara dan observasi ini, nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan sebuah program yang bertujuan untuk meminimalisasi prevalensi perilaku membolos sekolah pada siswa-siswi SMA Wahid Hasyim. Mengingat sebagai suatu komunitas, tentunya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain banyak memiliki kesamaan, baik dari segi fase perkembangan, status sosial orang tua, dan tingkat ekonomi. Sehingga hasil wawancara dan observasi terhadap saudara As’ad ini nantinya akan dapat digunakan sebagai dasar yang relevan dalam menentukan sebuah program penanganan untuk mengurangi prevalensi perilaku membolos pada siswa-siswi SMA Wachid Hasyim.
BAGIAN II
TEORI RUJUKAN
REMAJA
Masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Calon (1953) dalam Monks (2002) mengatakan masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak, karena secara fisik mereka sudah seperti orang dewasa. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Monsk, 2002). Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberiikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut (Sarwono, 2001):
Remaja adalah suatu masa dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
DELINKUEN
Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio dalam (Sarwono, 2001) mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat (Pusda Depsos RI, 1999). B. Simanjutak dalam (Sudarsono, 1995) memberii tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif. Psikolog Bimo Walgito dalam (Sudarsono, 1995) merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja. Sementara John W. Santrock (1995) mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).
BENTUK- BENTUK KENAKALAN
William C. Kvaraceus dalam (Mulyono, 1995) membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu:
1. Kenakalan bisaa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberii pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.
2. Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.
FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN
Menurut Kartini Kartono (1998), Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang.
Kartini Kartono (1998) membagi faktor penyebab perilaku delinkuen menjadi dua bagian sebagai berikut:
FAKTOR INTERNAL
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa:
1. Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.
2. Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.
3. Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh:
1. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
2. Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
3. Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
4. Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983 dalam Sarwono, 2001).
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat (Tambunan, 2008).
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
faktor-faktor internal penyebab perilaku delinkuen
1). Reaksi frustrasi negatif
2). Gangguan pengamatan dan tanggapan
Faktor internal
3). Gangguan cara berfikir
4). Gangguan emosional atau perasaan
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 120.
FAKTOR EKSTERNAL
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti (Kartono, 1998):
1. Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
2. Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
3. Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
4. Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku delinkuen
1.1. Broken home
1.2. Perlindungan lebih
1). Faktor keluarga
1.3. Penolakan orang tua
Faktor eksternal 1.4. Pengaruh buruk dari
orang tua
2). Faktor sekolah
3). Milieu
Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 126.
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001.
Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah 'a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya (Gialombardo, 1972 dalam Suyatno, 2008):
1. Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
2. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.
3. Proses mempelajari perilaku bisaanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini bisaanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.
a. Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
b. Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan psikologis anak digambarkan oleh Hasbullah M. Saad (2003) dalam bukunya Perkelahian Pelajar seperti dibawah ini:
Model umum pengaruh kondisi lingkungan terhadap
Perkembangan psikologis anak
Lingkungan makro
Karakter anak
Atensi
Karakter keluarga Interaksi antar perhatian ibu dengan anak
Mainutris
Perkembangan psikologis
Sumber: Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003), hal. 32.
BAGIAN III
WAWANCARA & OBSERVASI UNTUK TUJUAN ASSESMENT
Dasar-dasar teori diatas kemudian dijadikan sebagai acuan untuk membuat guide interview & check-List untuk mendapatkan informasi mengenahi latar belakang masalah yang sedang dihadapi oleh saudara As’ad (Perilaku membolos).
1. HASIL OBSERVASI
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI KONDISI SUBJEK SAAT INI
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Cara berpakaian sangat rapi
cukup
Tdk rapi
2. Sopan Santun baik
cukup
kurang
3. Pergaulan baik
cukup
kurang
4. Keseriusan dalam mengikuti pelajaran baik
cukup
kurang
5. Mencatat materi pelajaran selalu
kadang2
tdk pernah
6. Membolos sekolah sering
kadang 2
tdk pernah
7. Mengikuti kegiatan ekstra selalu
kadang 2
tdk pernah
8. Mematuhi peraturan sekolah selalu
kadang 2
tdk pernah
9. Cara berinteraksi dengan teman. baik
cukup
kurang
10. Menggunakan bahasa yang positif. selalu
kadang 2
tdk pernah
11. Duduk di barisan depan selalu
kadang 2
tdk pernah
12. Ikut serta dalam diskusi kelas selalu
kadang 2
tdk pernah
Keterangan:
Berilah tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi siswa saat ini.
Untuk penilaian membolos sekolah:
1. Sering (setiap dua minggu ada 1 hari yang tidak masuk).
2. Kadang-kadang (dalam 1 bulan ada 1 hari yang membolos).
CHECK LIST UNTUK OBSERVASI HUBUNGAN
SUBJEK DENGAN ORANG TUA
No. Aspek Yang diobservasi Penilaian
1. Perhatian orang tua baik
cukup
kurang
2. Komunikasi baik
cukup
kurang
3. Cara orang tua berinteraksi dengan anak. baik
cukup
kurang
4. Cara anak berinteraksi dengan orang tua. baik
cukup
kurang
5. Patuh terhadap aturan orang tua. selalu
kadang2
tdk pernah
6. Menghormati orang tua selalu
kadang 2
tdk pernah
7. Penghargaan orang tua terhadap pendapat anak. baik
cukup
kurang
8. Model pendidikan ortu otoriter
demokratis
Keterangan:
Beri tanda check list pada kotak penilaian yang sesuai dengan kondisi
siswa saat ini.
Observasi disekolah dilakukan pada tanggal 24, 31 Mei & 7 Juni dan observasi rumah dilakukan pada tanggal 25 Mei, 1 Juni dan 8 Juni, adapun untuk aspek penilaian membolos sekolah digunakan data absensi kelas. Hasil observasi menunjukkan As’ad adalah termasuk siswa yang tidak begitu disukai oleh teman-teman temannya karena As’ad dalam berkomunikasi dengan teman-temannya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang tidak positif seperti kata “jancuk” dan lain sebagainya. Cara berpakaian As’ad juga tidak rapi, bajunya tidak pernah dimasukkan dan rambutnya panjang. Selain itu As’ad juga tidak memiliki sopan santun terhadap guru, ketika berada di dalam kelas A’ad selalu membuat gaduh saat pelajaran sedang berlangsung, tidak pernah mencatat materi yang diberikan oleh guru, tidak pernah mengikuti diskusi dan selalu duduk paling belakang. As’at juga terkenal sebagai siswa yang tidak pernah patuh terhadap peraturan-oeraturan sekolah, seperti tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra, selalu membolos dan tidak pernah serius dalam mengikuti pelajaran.
Orang tua As’ad terlalu bersikap otoriter dalam mendidik anak-anaknya terlebih terhadap As’ad karena As’ad tidak pernah patuh dan menghormati aturan-aturan yang ada dalam keluarga. Cara berinteraksi As’ad dengan orang tua atau sebaliknya orang tua dengan As’ad tergolong kurang baik. Dalam lingkungan keluarga As’ad kurang mendapat penghargaan dari orang tua dan kurang diperhatikan, karena orang tua As’ad tidak pernah mau tau terhadap masalah As’ad, yang ada As’ad selalu mendapat marah dari orang tua.
2. HASIL WAWANCARA
Wawancara dilakukan pada tanggal 14 Juni, karena keterbatasan waktu wawancara hanya dilakukan kepada As’ad untuk melengkapi hasil observasi. Adapun hasil wawancara dengan As’ad secara verbatim disajikan dibawah ini:
Baris Isi wawancara Baris Masalah Yang Ditemukan
1
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
105
110
115
119 + Selamat siang mas As’ad
++ Siang pak! (agak tidak suka)
+ maaf mengganggu belajar mas As’ad sebentar
++ tidak apa-apa pak
+ terima kasih. Kalau boleh tau sepulang dari sekolah bisaanya apa kegiatan mas As’ad?
++ bisaanya saya tidak langsung pulang pak, mampir kewarung kopi dulu, baru pulang
+ kenapa mas As’ad tidak langsung pulang dan lebih memilih kewarung kopi dulu?
++ dari pada di rumah dimarahi terus sama orang tua pak, lebih baik kewarung kopi bisa kumpul dengan teman-teman yang lain.
+ bisaanya kewarung kopi mana dan apa yang mas As’ad lakukan di sana?
++ warung kopinya di Maduran Pak di desa saya sendiri, ya Cuma nongkrong saja Pak, kadang-kadang ya sambil main remi (main kartu).
+ sepulang dari warung kopi, apa As’ad juga ikut mengaji di mushollah, saya dapat informasi dari sekolah katanya bapak anda pak haji?
++ yang haji kan orang tua saya pak. Bisaanya ya tidur pak kalau tidak ada acara keluar dengan teman.
+ kalau begitu kapan As’ad belajar?
++ tidak pernah belajar pak, belajar juga buat apa, wong saya ini tidak pernah diperhatikan oleh orang tua saya kok.
+ masuk As’ad tidak memperhatikan?
++ saya itu sebenarnya kepingin masuk ke STM (Sekolah Teknik Mesin), tapi orang tua tidak pernah mau mendengarkan keinginan saya dan akhirnya saya sekolah di SMA Wachid Hasyim ini pak.
+ kalau boleh tau apa yang menjadi alasan orang tua As’ad lebih memilih SMA daripada STM?
++ orang tua saya itu kepinginnya saya jadi guru agama, saya pernah dipondokkan di pesantren Langitan Tuban tapi saya tidak kerasan.
+ apa karena tidak boleh masuk STM itu yang membuat As’ad selalu membolos sekolah?
++ iya pak, lawong saya itu tidak berminat sekolah diselain STM, ya mau bagaimana lagi pak, saya itu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
+ As’ad bisa bertanya pada teman-teman yang lain kan?
++ teman-teman tidak ada yang suka dengan saya pak, soalnya kata teman-teman saya itu kalau bicara arogan. Makanya saya sering bolos karena saya tidak punya teman di sekolah, lebih baik saya kewarung kopi banyak yang menghargai saya.
+ apa As’ad tidak merasa rugi kalau As’ad selalu membolos sekolah?
++ tidak pak buat apa wong saya memang sudah tidak suka sekolah disini. Kalau orang tua saya mau memindahkan ke STM ya saya akan rajin sekolah pak.
+ belajar mesin kan tidak hanya di sekolah, As’ad bisa ambil kursus mesin sambil tetap sekolah. Selain As’ad senang orang tua As’ad juga senang. Apa As’ad tidak pernah coba membicarakan kepada orang tua As’ad?
++ saya itu jarang bicara dengan orang tua saya pak, begitu juga dengan orang tua saya. Paling-paling kalau mau marahi atau menyuruh saya saja baru bicara. Mereka itu tidak pernah mau tau dengan keinginan anak-naknya. Makanya kakak saya dulu juga sering dapat masalah di sekolah seperti saya ini.
+ jadi komunikasi As’ad dengan orang tua selama ini bagaimana?
++ ya seperti yang saya bilang tadi pak.
+ menurut informasi dari guru BK, As’ad juga tidak punya sopan santun pada guru dan tidak pernah ikut kegiatan ekstra kulikuler, apa benar demikian?
++ saya tidak pernah mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karena tidak ada yang saya sukai pak, jadi buat apa saya ikut. Kalau tidak sopan dengan para guru….saya sopan kok pak (defend)
+ pernah tidak As’ad bicara sendiri saat pelajaran berlangsung?
++ sering pak, saya tidak suka dengan pelajarannya makanya saya tidak mau mendengarkan pak.
+ apa As’ad selalu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh pak guru?
++ tidak pak.
+ baik, apa alasan As’ad tidak pernah memasukkan baju dan berambut panjang?
++ biar keren pak, biar kelihatan macho, kalau tidak begini tidak ada cewek yang naksir saya donk pak, sudah bodoh dan tidak keren. Kalau begini kan keren pak.
+ lalu apa yang membuat As’ad tidak pernah mematuhi peraturan orang tua?
++ mereka juga tidak pernah memperhatikan saya pak.
+ maksud As’ad?
++ mereka kan maunya menang sendiri. Mereka juga tidak pernah memberii penghargaan atas prestasi saya. Saya pernah menag juara 1 dalam lomba menggambar tingkat kecamatan. Semua teman memberii ucapan selama. Tapi orang tua saya bisaa saja dan tidak menghargai saya.
+ baik, kalau begitu untuk sementara cukup dulu. Terima kasih dan minggu depan saya akan memanggil As’ad lagi untuk mendengarkan keinginan-keinginana As’ad yang nanti akan saya sampaikan kepada orang tua As’ad. Bagaimana anda bersedia.
++ asalkan untuk saya pak.
+ baik.
5 – 9
12
21 – 26
26 – 28
31 -34
40 – 45
50 -53
55 – 60
65-70
80 -84
85 – 89
90 – 93
95-100
103-105
105-110
Keluyuran
Selalu dimarahi ortu
Tidak mau mengikuti aturan orang tua.
Tidak pernah belajar
Tidak suka dengan sekolahnya.
Membolos sekolah
Tidak bisa mengikuti pelajaran.
Tidak disukai oleh teman
Tidak punya motivasi
Komunikasi dengan orang tua tidak baik.
Tidak pernah ikut ekstra kulikuler
Tidak mendengarkan guru
Tidak pernah mengrjakan PR
Tidak pernah berpakaian rapi
Tidak diperhatikan orang tua
Tidak pernah dihargai orang tua
Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku membolos sekolah saudara As’ad disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1. Faktor internal
Faktor emosi, dalam hal ini adalah ketidak mampuan subjek secara emosi dalam mensikapi perlakuan orang tua yang terlalu otoriter dan tidak memberi ruang diskusi pada subjek. Sehingga subjek merespon sikap orang tua yang demikian dengan melakukan perilaku-perilaku yang melanggar aturan-aturan keluarga dan aturan-aturan sekolah. Ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kartini Kartono (1998), bahwa gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberiikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
Ketidak mampuan subjek dalam melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah. Philip Graham (1983) menjelaskan bahwa factor ketidak mampuan subjek dalam menyesuaikan diri juga dapat menyebabkan perilaku delinkuen.
Reaksi frustrasi. Dalam hal ini adalah ketidak puasan subjek terhadap keputusan memasukkan dirinya ke sekolah SMA, yang kemudian direspon secara negative oleh subjek, seperti tidak mau memperhatikan guru dan membolos.
2. Faktor eksternal
Pola asuh keluarga yang otoriter. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Santrock, menurutnya faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja , semidal overproteksi, rejected child dan lain=lain(Santrock, 1995). Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitian Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001).
Lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang belum memiliki tenaga Psikolog membuat As’ad cuma menjadi bahan cemoohan dan tidak mendapat problem solving yang tepat, akibatnya As’ad cenderung menarik diri dari pergaulan sekolah dan lebih memilih bergaul dengan remaja-remaja yang nongkrong diwarung kopi.
BAGIAN IV
PENANGANAN KASUS
UNTUK TUJUAN PENYELESAIAN MASALAH AS’AD
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh As’ad. Dapat dilakukan konseling kepada As’ad yang berorientasi pada menumbuhkan kesadaran pada diri subjek bahwa cara dirinya mensikapi pendidikan orang tuanya yang terlalu otoriter itu kurang tepat, karena langkah yang diambil oleh subjek justeru merugikan diri subjek sendiri. Selain itu konseling juga diarahkan pada menjadikan subjek sebagai orang yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan teknik-teknik konfrontasi dengan pendekatan RET (Rational Emotif) dan Pendekatan Realitas akan mampu membantu subjek menyelesaikan masalahnya secara positif dan konstruktif.
Selain itu, konseling juga dilakukan kepada kedua orang tua As’ad, untuk memberii pengertian kepada mereka akan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Selain itu konseling ditujukan untuk memberi pengertian kepada orang tua, bahwa sangat disarankan kepada orang tua untuk menempatkan anak pada pendidikan yang sesuai dengan minat anak. Berkaitan dengan masalah As’ad orang tua dapat disarankan untuk mencarikan solusi alternative untuk mengembangkan potensi yang dimiliki As’ad, dengan memasukkan As’ad pada kursus Teknik Mesin.
UNTUK TUJUAN MEMINIMALISASI PREVALENSI MEMBOLOS PADA SISWA SMA WACHID HASYIM
Untuk tujuan diatas, dapat dibuat program kegiatan semisal seminar tentang pendidikan anak yang diperuntukkan untuk para orang tua yang anaknya memiliki masalah di sekolah dan dapat dibuat program seminar tentang pentingnya management diri untuk mencapai kesuksesan dimasa depan yang diperuntukkan bagi para siswa yang bermasalah.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Kartono., Kartini, 1998, Patologi Sosial 2, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Mulyono., Y. Bambang, 1995, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Yogyakarta:Kanisius.
Saad., Hasbullah M., 2003, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Yogyakarta:Galang Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Sarwono., Sarlito Wirawan, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.
Sudarsono, 1995, Kenakalan Remaja, Jakarta:Rineka Cipta.
Tambunan., Raimon, Perkelahian Pelajar, http// e-psikologi.com, diakses 20 Mei 2008.
Suyatno., Bagong, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, http://bkkbn.go.id, diakses 20 Mei 2008.
psikologi perkembangan MASA BAYI
MASA BAYI BARU LAHIR
BAB I
PENDAHULUAN
Seorang anak bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, karena ia mempunyai sifat berlainan dari orang dewasa. Ia harus tumbuh dan berkembang sampai dewasa agar dapat berguna bagi masyarakat. Walaupun pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, seorang anak dalam banyak hal bergantung kepada orang dewasa. Masa neonatal masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran. Bayi adalah anak yang belum lama lahir. Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2.500-4000 gram. Pertumbuhan dan perkembangan anak dalam ilmu kesehatan anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspek kemajuan yang dicapai oleh jazad manusia dari konsepsi sampai dewasa.Pertumbuhan berarti bertambah besar dalam aspek fisis akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler. Oleh karena itu pertumbuhan dapat diukur dalam sentimeter atau incih dan dalam kilogram atau pound.
Percepatan tumbuh yang mencapai maksimum terjadi pada akhir masa janin dan kemudian menurun terus sampai melewati masa bayi, kemudian timbul percepatan tumbuh lagi pada masa adolesensi yang kemudian menurun dan berhenti setelah mencapai umur dewasa.
BAB II
PEMBAHASAN
Bayi adalah seorang anak yang muda usianya. Disini akan dijelaskan tentang bentuk rupa ketika bayi baru lahir, seperti dagu dan pinggul bayi yang baru lahir itu sempit, dengan perut agak buncit, serta lengan dan kaki yang agak pendek. Berat badannya kurang lebih 7.5 paun (3.2 kilogram) dan panjangnya 14-20 inci (35.6-50.8 sentimeter, walaupun bayi baru lahir pramasa adalah lebih kecil). Kepala bayi baru lahir itu amat besar di banding bagian-bagian badan yang lain, Sedangkan tengkorak manusia dewasa adalah kurang lebih 1/8 dari panjang badan. Ketika dilahirkan, tengkorak bayi baru lahir masih belum sempurna menjadi tulang.
Setengah bayi baru lahir mempunyai bulu halus yang dinamakan lanugo, khususnya di belakang, bahu, dan dahi bayi pramasa. Lanugo hilang dengan sendirinya dalam masa beberapa minggu. Tidak semua bayi mempunyai rambut yang banyak. Ada yang botak, dan ada yang mempunyai rambut yang terlalu halus sehingga hampir tidak dapat dilihat. Biasanya setelah kelahiran, kulit bayi baru lahir sering berwarna keabu-abuan hingga biru suram. Bayi baru lahir itu basah dan diliputi oleh tanda jalur darah serta bahan putih yang dinamakan verniks kaseosa dan yang dianggap bertindak sebagai rintangan anti bakteria Bayi baru lahir mungkin juga mempunyai bintik Mongolia, berbagai tanda lahir, atau kulit mengelupas, khususnya di bagian pergelangan tangan, tangan, mata kaki, dan kaki. Bagaimanapun, semua ini dianggap biasa dan akan hilang dengan peredaran masa.
Tali pusar bayi baru lahir berwarna putih kebiru-biruan. Selepas kelahiran, dokter akan memotong tali pusar dan tali pusar yang ada di bayi baru lahir kira-kira panjangnya 1-2 inci. Tali pusar itu akan menjadi kering dan keriput, serta menjadi hitam, dan kemudian lepas dengan sendirinya dalam tempo kira-kira tiga minggu.
Proses menyusui dapat segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi
yang lahir cukup bulan akan memiliki naluri untuk menyusu pada ibunya di
20 – 30 menit setelah ia lahir. Seperti yang telah diketahui bersama, ibu harus menyusui sesering mungkin kapanpun bayi menginginkannya. Ini berarti, paling tidak tiap 2 hingga 3 jam sekali dan tiap 4 hingga 5 jam di malam hari dari 8 hingga
12 kali menyusui selama 24 jam. Umumnya bayi menyusu kira-kira 20-40 menit sekali.
Pada masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran sampai 15 dan 30 menit setelah kelahiran.
2. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidiupan pascamatur.
Ciri-Ciri bayi neonatal, yaitu :
1. Masa bayi neonatal merupakan periode yang tersingkat dari semua periode perkembangan. Masa ini hanya dimulai dari kelahiran sampai tali pusar lepas dari pusarnya
2. Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian yang radikal. Masa dimana suatu peralihan dari lingkungan dalam ke lingkungan luar.
3. Masa bayi neonatal merupakan masa terhentinya perkembangan. Ketika periode pranatal sedang berkembang tiba-tiba terhenti pada kelahiran.
4. Masa bayi neonatal merupakan pendahuluan dari perkembangan selanjutnya. Perkembangan individu di masa depan akan tampak pada waktu dilahirkan .
5. Masa bayi neonatal merupakan periode yang berbahaya. Masa ini berbahaya karena sulitnya menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru.
Penyesuaian pokok yang dilakukan bayi neonatal, yaitu :
1. Perubahan suhu, dimana ketika didalam rahim suhu berkisar 1000 F, namun suhu diluar berkisar 600 sampai 700 F
2. Bernapas, jika tali pusar diputus maka bayi mulai harus menapas serndiri.
3. Mengisap dan menelan, jadi bayi sudah tidak lagi mendapat makanan melalui tali pusar tetapi memperoleh makanan dengan cara mengisap dan menelan
4. Pembuangan, ketika bayi dilahirkan barulah alat-alat pembuangan itu berfungsi.
Indikasi umum tentang kesulitan menyesuaikan kehidupan setelah kelahiran,
1. Berkurangnya berat badan
2. Perilaku yang tidak teratur
3. kematian pada bayi
Kondisi yang mempengaruhi penyesuaian diri pada kehidupan pascanatal :
1. Lingkungan pranatal, dimana pada waktu dilingkungan pranatal tidak di rawat oleh ibunya sehingga dilingkungan pascanatal meempengaruhi perkembangannya.
2. Jenis persalinan, mudah atau sulitnya persalinan mempengaruhi penyesuaian pascanatal.
3. Pengalaman yang berhubungan dengan persalinan, ada dua pengalaman yang berpengaruh besar pada penyesuaian pascanatal,yaitu seberapa jauh ibu terpengaruh oleh obat-obatan dan mudah sullitnya bayi bernapas.
4. Lamanya periode kehamilan, jika bayi yang dilahirkan sebelum waktunya di sebut premature, sedangkan yang terlambat disebut postmatur. Abortus : bayi lahir dengan berat badan kurang dari 500 g, dan / atau usia gestasi kurang dari 20 minggu. Angka harapan hidup amat sangat kecil, kurang dari 1%
5. Sikap Orang tua, sikap yang menyenangkan dari orang tua memperlakukan bayinya itu akan mendorong penyesuaian yang baik.
6. Perawatan pascanatal, yaitu ada tiga aspek : pertama kebutuhan tubuh, kedua rangsangan yang diberikan.dan ketiga kepercayaan orang tua.
Bahaya pada bayi neonatal, yaitu :
1. Bahaya fisik, seperti lingkungan pranatal yang tidak baik, persalinan yang sulit dan ruwet, kelahiran kembar, postmatur, premature dan kematian bayi
2. Bahaya psikologis, seperti kepercayaan tradisional mengenai kelahiran, ketidakberdayaan, individualitas bayi, terhentinya perkembangan bayi, kurangnya rangsanagn,kemurungan orang tua baru, dan sikap yang kurang menyenangkan dari orang-orang yang berarti.
Berat badan bayi baru lahir (birthweight)
Berat badan bayi pada saat kelahiran, ditimbang dalam waktu satu jam sesudah lahir.
1. Bayi berat lahir cukup : bayi dengan berat lahir > 2500 g.
2. Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1500 – 2500 g.
3. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) / Very low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir 1000 – 1500 g.
4. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) / Extremely very low birthweight infant : bayi lahir hidup dengan berat badan lahir kurang dari 1000 g.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B., PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, Jakarta : Erlangga edisi kelima
BAB I
PENDAHULUAN
Seorang anak bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, karena ia mempunyai sifat berlainan dari orang dewasa. Ia harus tumbuh dan berkembang sampai dewasa agar dapat berguna bagi masyarakat. Walaupun pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, seorang anak dalam banyak hal bergantung kepada orang dewasa. Masa neonatal masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran. Bayi adalah anak yang belum lama lahir. Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2.500-4000 gram. Pertumbuhan dan perkembangan anak dalam ilmu kesehatan anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspek kemajuan yang dicapai oleh jazad manusia dari konsepsi sampai dewasa.Pertumbuhan berarti bertambah besar dalam aspek fisis akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler. Oleh karena itu pertumbuhan dapat diukur dalam sentimeter atau incih dan dalam kilogram atau pound.
Percepatan tumbuh yang mencapai maksimum terjadi pada akhir masa janin dan kemudian menurun terus sampai melewati masa bayi, kemudian timbul percepatan tumbuh lagi pada masa adolesensi yang kemudian menurun dan berhenti setelah mencapai umur dewasa.
BAB II
PEMBAHASAN
Bayi adalah seorang anak yang muda usianya. Disini akan dijelaskan tentang bentuk rupa ketika bayi baru lahir, seperti dagu dan pinggul bayi yang baru lahir itu sempit, dengan perut agak buncit, serta lengan dan kaki yang agak pendek. Berat badannya kurang lebih 7.5 paun (3.2 kilogram) dan panjangnya 14-20 inci (35.6-50.8 sentimeter, walaupun bayi baru lahir pramasa adalah lebih kecil). Kepala bayi baru lahir itu amat besar di banding bagian-bagian badan yang lain, Sedangkan tengkorak manusia dewasa adalah kurang lebih 1/8 dari panjang badan. Ketika dilahirkan, tengkorak bayi baru lahir masih belum sempurna menjadi tulang.
Setengah bayi baru lahir mempunyai bulu halus yang dinamakan lanugo, khususnya di belakang, bahu, dan dahi bayi pramasa. Lanugo hilang dengan sendirinya dalam masa beberapa minggu. Tidak semua bayi mempunyai rambut yang banyak. Ada yang botak, dan ada yang mempunyai rambut yang terlalu halus sehingga hampir tidak dapat dilihat. Biasanya setelah kelahiran, kulit bayi baru lahir sering berwarna keabu-abuan hingga biru suram. Bayi baru lahir itu basah dan diliputi oleh tanda jalur darah serta bahan putih yang dinamakan verniks kaseosa dan yang dianggap bertindak sebagai rintangan anti bakteria Bayi baru lahir mungkin juga mempunyai bintik Mongolia, berbagai tanda lahir, atau kulit mengelupas, khususnya di bagian pergelangan tangan, tangan, mata kaki, dan kaki. Bagaimanapun, semua ini dianggap biasa dan akan hilang dengan peredaran masa.
Tali pusar bayi baru lahir berwarna putih kebiru-biruan. Selepas kelahiran, dokter akan memotong tali pusar dan tali pusar yang ada di bayi baru lahir kira-kira panjangnya 1-2 inci. Tali pusar itu akan menjadi kering dan keriput, serta menjadi hitam, dan kemudian lepas dengan sendirinya dalam tempo kira-kira tiga minggu.
Proses menyusui dapat segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi
yang lahir cukup bulan akan memiliki naluri untuk menyusu pada ibunya di
20 – 30 menit setelah ia lahir. Seperti yang telah diketahui bersama, ibu harus menyusui sesering mungkin kapanpun bayi menginginkannya. Ini berarti, paling tidak tiap 2 hingga 3 jam sekali dan tiap 4 hingga 5 jam di malam hari dari 8 hingga
12 kali menyusui selama 24 jam. Umumnya bayi menyusu kira-kira 20-40 menit sekali.
Pada masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran sampai 15 dan 30 menit setelah kelahiran.
2. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidiupan pascamatur.
Ciri-Ciri bayi neonatal, yaitu :
1. Masa bayi neonatal merupakan periode yang tersingkat dari semua periode perkembangan. Masa ini hanya dimulai dari kelahiran sampai tali pusar lepas dari pusarnya
2. Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian yang radikal. Masa dimana suatu peralihan dari lingkungan dalam ke lingkungan luar.
3. Masa bayi neonatal merupakan masa terhentinya perkembangan. Ketika periode pranatal sedang berkembang tiba-tiba terhenti pada kelahiran.
4. Masa bayi neonatal merupakan pendahuluan dari perkembangan selanjutnya. Perkembangan individu di masa depan akan tampak pada waktu dilahirkan .
5. Masa bayi neonatal merupakan periode yang berbahaya. Masa ini berbahaya karena sulitnya menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru.
Penyesuaian pokok yang dilakukan bayi neonatal, yaitu :
1. Perubahan suhu, dimana ketika didalam rahim suhu berkisar 1000 F, namun suhu diluar berkisar 600 sampai 700 F
2. Bernapas, jika tali pusar diputus maka bayi mulai harus menapas serndiri.
3. Mengisap dan menelan, jadi bayi sudah tidak lagi mendapat makanan melalui tali pusar tetapi memperoleh makanan dengan cara mengisap dan menelan
4. Pembuangan, ketika bayi dilahirkan barulah alat-alat pembuangan itu berfungsi.
Indikasi umum tentang kesulitan menyesuaikan kehidupan setelah kelahiran,
1. Berkurangnya berat badan
2. Perilaku yang tidak teratur
3. kematian pada bayi
Kondisi yang mempengaruhi penyesuaian diri pada kehidupan pascanatal :
1. Lingkungan pranatal, dimana pada waktu dilingkungan pranatal tidak di rawat oleh ibunya sehingga dilingkungan pascanatal meempengaruhi perkembangannya.
2. Jenis persalinan, mudah atau sulitnya persalinan mempengaruhi penyesuaian pascanatal.
3. Pengalaman yang berhubungan dengan persalinan, ada dua pengalaman yang berpengaruh besar pada penyesuaian pascanatal,yaitu seberapa jauh ibu terpengaruh oleh obat-obatan dan mudah sullitnya bayi bernapas.
4. Lamanya periode kehamilan, jika bayi yang dilahirkan sebelum waktunya di sebut premature, sedangkan yang terlambat disebut postmatur. Abortus : bayi lahir dengan berat badan kurang dari 500 g, dan / atau usia gestasi kurang dari 20 minggu. Angka harapan hidup amat sangat kecil, kurang dari 1%
5. Sikap Orang tua, sikap yang menyenangkan dari orang tua memperlakukan bayinya itu akan mendorong penyesuaian yang baik.
6. Perawatan pascanatal, yaitu ada tiga aspek : pertama kebutuhan tubuh, kedua rangsangan yang diberikan.dan ketiga kepercayaan orang tua.
Bahaya pada bayi neonatal, yaitu :
1. Bahaya fisik, seperti lingkungan pranatal yang tidak baik, persalinan yang sulit dan ruwet, kelahiran kembar, postmatur, premature dan kematian bayi
2. Bahaya psikologis, seperti kepercayaan tradisional mengenai kelahiran, ketidakberdayaan, individualitas bayi, terhentinya perkembangan bayi, kurangnya rangsanagn,kemurungan orang tua baru, dan sikap yang kurang menyenangkan dari orang-orang yang berarti.
Berat badan bayi baru lahir (birthweight)
Berat badan bayi pada saat kelahiran, ditimbang dalam waktu satu jam sesudah lahir.
1. Bayi berat lahir cukup : bayi dengan berat lahir > 2500 g.
2. Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1500 – 2500 g.
3. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) / Very low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir 1000 – 1500 g.
4. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) / Extremely very low birthweight infant : bayi lahir hidup dengan berat badan lahir kurang dari 1000 g.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B., PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, Jakarta : Erlangga edisi kelima
Rabu, 09 Juni 2010
Dari Unrika ke UPI Bandung
Diawali dengan semangat yang membara untuk menjadi seorang Konselor Professional kami bergerak dari Unrika Batam menuju Universitas Pendidikan Indonesia ( sebuah universitas negri yang sangat megah )terletak di Bandung untuk mengikuti Seminar Nasional tentang Revitalisasi Keilmuan Bimbingan dan Konseling tanggal 18 dan 19 Mei' 2010.
Kami berangkat berlima dalam sebuah team yang kami kemas dalam kerangka Lembaga Bimbingan Konseling " Konseling Batamku" di Unrika yang akan kita persembahkan kepada masyarakat Kepulauan Riau.
Meskipun perjalan ini telah banyak menyedot pikiran, tenaga dan tentu saja uang namun ilmu yang kami dapatkan jauuuh lebih berharga dari pengorbanan yang kami berikan. Di Universitas Pendidikan yang sangat bergengsi itu, kami belajar tentang apa dan bagaimana sesungguhnya Bimbingan Konseling sekaligus mencari tau sejauh mana kiprah yang dapat diberikan untuk masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kepulauan Riau.
Dari sana sedikit demi sedikit kami mengetahui bahwa jurusan Bimbingan dan Konseling merupakan sebuah program studi yang sangat favorit di Perguruan Tinggi Negri tersebut. Ini jelas menambah semangat kami untuk terus belajar dan menggali ilmu yang terkandung didalamnya walaupun secara jujur kita mengakui bahwa dosen dosen pengampu di unrika belum ada yang memiliki latar belakang Bimbingan dan Konseling, namun setidaknya Unrika telah memiliki keberanian dan berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kepri dalam upaya menghasilkan SDM yang handal dibidang Bimbingan dan Konseling dari Sarjana yang akan dihasilkanya.
Saat ini kami sangat berharap agar pihak Fakultas berkenan memberikan fasilitas dan kemudahan demi terciptanya SDM yang terbaik yang lahir dari angkatan BK pertama Unrika.
Terima kasih Unrika, semoga kedepan menjadi lebih baik dan berkenan memberikan yang terbaik untuk Mahasiswa, baik dalam bentuk subsidi biaya maupun spirit sehingga BK Unrika angkatan pertama dan seterusnya dapat mengangkat nama baik Unrika dimata masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di wilayah Kepulauan Riau.
Mohon maaf, krn waktu terbatas dan Insya Allah akan kita lanjutkan pada gelombang dan waktu yg berbeda.
Kami berangkat berlima dalam sebuah team yang kami kemas dalam kerangka Lembaga Bimbingan Konseling " Konseling Batamku" di Unrika yang akan kita persembahkan kepada masyarakat Kepulauan Riau.
Meskipun perjalan ini telah banyak menyedot pikiran, tenaga dan tentu saja uang namun ilmu yang kami dapatkan jauuuh lebih berharga dari pengorbanan yang kami berikan. Di Universitas Pendidikan yang sangat bergengsi itu, kami belajar tentang apa dan bagaimana sesungguhnya Bimbingan Konseling sekaligus mencari tau sejauh mana kiprah yang dapat diberikan untuk masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kepulauan Riau.
Dari sana sedikit demi sedikit kami mengetahui bahwa jurusan Bimbingan dan Konseling merupakan sebuah program studi yang sangat favorit di Perguruan Tinggi Negri tersebut. Ini jelas menambah semangat kami untuk terus belajar dan menggali ilmu yang terkandung didalamnya walaupun secara jujur kita mengakui bahwa dosen dosen pengampu di unrika belum ada yang memiliki latar belakang Bimbingan dan Konseling, namun setidaknya Unrika telah memiliki keberanian dan berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kepri dalam upaya menghasilkan SDM yang handal dibidang Bimbingan dan Konseling dari Sarjana yang akan dihasilkanya.
Saat ini kami sangat berharap agar pihak Fakultas berkenan memberikan fasilitas dan kemudahan demi terciptanya SDM yang terbaik yang lahir dari angkatan BK pertama Unrika.
Terima kasih Unrika, semoga kedepan menjadi lebih baik dan berkenan memberikan yang terbaik untuk Mahasiswa, baik dalam bentuk subsidi biaya maupun spirit sehingga BK Unrika angkatan pertama dan seterusnya dapat mengangkat nama baik Unrika dimata masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di wilayah Kepulauan Riau.
Mohon maaf, krn waktu terbatas dan Insya Allah akan kita lanjutkan pada gelombang dan waktu yg berbeda.
Jumat, 19 Februari 2010
Berilah Semangat untuk hidupmu
Menjalani tantangan hidup dan kehidupan yang terus dinamis, penuh dengan harapan dan tantangan tidak ada kata lain yang lebih baik kecuali harus dengan SEMANGAT dan terus menerus BERKARYA sesuai dengan segala kemampuan yang kita miliki.
Tidak ada manusia yang tidak bisa berbuat baik karena fitrah manusia adalah kebaikan dan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi. lakukanlah dan terus lakukan, jangan pernah ada kata menyerah bersarang dalam diri kita walau sebentar saja.
Manusia dengan segala kesempurnaan yang telah diberikan secara gratis oleh Allah SWT, harus mampu berbuat dan berkarya. Sebarkan benih2 cinta dimuka bumi dengan perbuatan-perbuatan yg dapat memberikan manfaat buat masyarakat. Berilah warna yang indah dalam hidup dan kehidupan kita, maka niscaya hidup kita akan selalu diwarnai dengan keindahan-keindahan.
Sedikit yang kita lakukan mulai hari ini secara terus menerus, itu jauh lebih berarti dari pada anda terus berpikir yang besar-besar tapi tidak pernah melakukanya.
Salam semangat dan terus berkarya, semoga Allah memberikan keridhoan atas segala yang kita lakukan.
Wassaalam.
Tidak ada manusia yang tidak bisa berbuat baik karena fitrah manusia adalah kebaikan dan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi. lakukanlah dan terus lakukan, jangan pernah ada kata menyerah bersarang dalam diri kita walau sebentar saja.
Manusia dengan segala kesempurnaan yang telah diberikan secara gratis oleh Allah SWT, harus mampu berbuat dan berkarya. Sebarkan benih2 cinta dimuka bumi dengan perbuatan-perbuatan yg dapat memberikan manfaat buat masyarakat. Berilah warna yang indah dalam hidup dan kehidupan kita, maka niscaya hidup kita akan selalu diwarnai dengan keindahan-keindahan.
Sedikit yang kita lakukan mulai hari ini secara terus menerus, itu jauh lebih berarti dari pada anda terus berpikir yang besar-besar tapi tidak pernah melakukanya.
Salam semangat dan terus berkarya, semoga Allah memberikan keridhoan atas segala yang kita lakukan.
Wassaalam.
Kamis, 07 Januari 2010
Masa2 di sekolah adalah masa yg paling indah
Konon kabarnya bahwa suatu masa yang paling indah adalah masa-masa ketika kita masih disekolah. Kebenaranya mungkin tidak diragukan lagi bagi yang menikmati keindahan pada masa itu, namun bagi yang tidak mendapatkan keindahan pada masa tersebut barangkali akan mengatakan kebalikanya bahwa masa-masa di sekolah adalah masa yang menyakitkan..... bagaimana menurut anda????.
Bagi penulis, merasakan bahwa masa-masa sekolah adalah masa yang penuh dengan cobaan dan rintangan karena pada masa itu ditinggalkan oleh ayah tercinta dan harus bekerja keras untuk dapat melanjutkan sekolah. Ini hanya satu dari sekian banyak orang yg mungkin saja memiliki persoalan yang sama atau sedikit mirip kejadianya.
Keindahan dan kebahagiaan tidak selamanya bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi sesuatu yang kadang-kadang hanya bisa dirasakan dengan penuh perasaan dan cinta kasih Sehingga terlihat abstrak oleh kita.
Bagi penulis, merasakan bahwa masa-masa sekolah adalah masa yang penuh dengan cobaan dan rintangan karena pada masa itu ditinggalkan oleh ayah tercinta dan harus bekerja keras untuk dapat melanjutkan sekolah. Ini hanya satu dari sekian banyak orang yg mungkin saja memiliki persoalan yang sama atau sedikit mirip kejadianya.
Keindahan dan kebahagiaan tidak selamanya bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi sesuatu yang kadang-kadang hanya bisa dirasakan dengan penuh perasaan dan cinta kasih Sehingga terlihat abstrak oleh kita.
Kamis, 24 Desember 2009
Kenakalan Remaja Dan Solusinya
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Satu masalah sosial/kemasyarakatan yang harus mendapat perhatian kita bersama dan perlu ditanggulangi ialah tentang kemerosotan akhlak atau dekadensi moral.
Di samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan remaja-remaja pada waktu yang akhir-akhir ini dan pembinaan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pelajar dan mahasiswa, kita melihat pula arus kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita, yang lebih terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan remaja putrid dan lain sebagainya.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh kerena itu persoalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan dikalangan remaja.
B.Permasalahan
Dari uraian singkat tersebut diatas maka muncul beberapa persolan yang tentnya sangat menarik sekali untuk dibahas demi mencari titik temu permasalahan, persoalan tersebut dirangkum dalam beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
A.) Apa faktor yang melatar belakangi kenakalan remaja ?
B.) Apa akibat yang ditimbulkan dari kenakalan remaja tersebut ?
C.) Bagaimana upaya penaggulangannya ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.) Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja.
Ula para dara muda yang masih dalam tarap pencarian jati diri sering sekali mngusik ketenangan orang lain, kenakalan-kenakalan ringan dan mengganggu ketentraman lingkungan sekitar yaitu seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lain, dan kesemuanya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya.
Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja adalah sebagai berikut bagai berikut :
a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang,
b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan
c. Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya.
1). Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja.
Dr. Kartini Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain :
1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.
2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja menjadi tidak terpenuhi. Keinginan dan harapan anak–anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
3. Anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup normal. Mereka tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol-diri yang baik.
Maka dengan demikian perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2). Minimnya pemahaman tentang keagamaan.
Di dalam kehidupan berkeluarga kurangnya pembinaan agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
Dalam pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik. Maka pembinaan moral harus dimulai dari orang tua baik perlakuan, pelayanannya kepada remaja dapat memperlihatkan contoh teladan yang baik melaksanakan shalat dan sebagainya yang merupakan hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif karena apa yang diperoleh dalam rumah tangganya akan dibawa kelingkungan masyarakat. Oleh karena itu pembinaan moral dan agama dalam keluarga penting sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka dari kenakalan dan merupakan cara untuk mempersiapkan hari depan generasi yang akan datang, sebab kesalahan dalam pembinaan moral akan berakibat negatif terhadap remaja itu sendiri.
Sebenarnya pemahaman tentang agama sebaiknya dilakukan semenjak kecil, yaitu melalui kedua orang tua dengan cara memberikan pembinaan moral dan bimbingan tentang keagamaan, agar nantinya setelah mereka remaja bisa memilah baik buruk perbuatan yang ingin mereka lakukan sesuatu di setiap harinya.
Dalam masyarakat sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu menjadi tertinggal dibelakang. Dan didalam masyarakat yang telah terlalu jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi. Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan – perbuatan orang dewasa yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja sehingga berdampak timbulnya kenakalan remaja.
Kekurangan spiritual termasuk ketidak pahaman secara utuh tentang ajaran Islam sehingga mereka melakukan apa saja yang menjadi keinginan serta kemauan mereka.
3). Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat, pergaulan dengan teman sebayanya yang mana sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagai mana kita ketahui bahwa para remaja sangat senag dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya. Karena dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya.
2.) Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja
Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja ada 3 antara lain :
a. Bagi diri remaja itu sendiri
b. Bagi keluarga
c. Bagi lingkungan masyarakat.
1). Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari kenakalan yang dia lakukan akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Kenakalan yang dilakukan yang dampaknya bagi fisik yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena karena gaya hidup yang tidak teratur. Sedangkan dalam segi mental maka pelaku kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada memtal-mental yang lembek, berfikirnya tidak stabil dan keperibadiannya akan terus menyimpang dari segi moral dan endingnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama tidak ada yang mengarahkan.
2). Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan tentunya ini sangat tidak baik, Sehingga mengakibatkan anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya.
3). Bagi lingkungan masyarakat
Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya remaja sering bertemu orang dewasa atau para orang tua, baik itu ditempat ibadah ataupun ditempat lainnya, yang mana nantinya apapun yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum remaja. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan dampaknya akan buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.
Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Tindakan penanggulangan masalah kebakalan dapat di bagi dalam:
3.) Menanggulangi masalah kenakalan remaja
A. Tindakan Preventif
Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum.
1. Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
2. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.
3. Usaha pembinaan remaja :
a. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya
b. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.
c. Menyediakan sarana-sarana dan meciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
d. Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.
Dengan usaha pembinaan yang terarah para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimabnagn diri akan dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi. Pikiran yang sehat akan mengarahkan mereka ke perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.
Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus
Dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkahlaku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya.
Sarana pendidikan lainya mengambil peranan penting dalam pembentukan pribadi yang wajar dengan mental yang sehat dan kuat. Misalnya kepramukaan, dan yang lainnya.
Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkahlaku remaja di rumah dan di sekolah.
Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:
a. Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
b. Penyesuaiam diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
c. Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yag dilakukan dengan dua pendekatan:
1. Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada si remaja itui sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja danmembantu mengatasinya.
2. Pendekatan melalui kelompok di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:
a. Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
b. Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingklaku baik dan merangsang hubungan sosia; yang baik.
c. Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukaka pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.
d. Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok dipupuk solidaritas dan persekutuan denga Pembimbing.
B. Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.
a. Di rumah, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.
b. Di sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru san staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergabtung dari macam pelanggaran tata tertib sekolah yang digariskan.
C. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkahlaku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Diantara penyebab terjadinya Kenakalan remaja adalah karena faktor kurangnya perhatian dan kasih sayang dari pihak keluarga, pemahaman tentang agama dan pembinaan tentang keagamaan serta pengaruh pergaulan dengan lingkungan sekitar yang meliputi berupa budaya dari barat, awalnya Cuma mencoba malah terjerumus di dalamnya.
2. Dan akibat yang ditimbulkan kenakalan remaja bagi diri sendiri sangat berpengaruh pada psikologi remaja itu sendiri, dan bagi keluarga para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama jangan langsung main fisik dampaknya akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan itu semua akan berdampak negatif dan kurang baik bagi remaja itu sendiri baik bagi dirinya, keluarga maupun lingkungan sekitarnya berada. Serta bagi masyarakat sekitar menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan untuk berubah kejalan yang lebih baik.
3. Adapun upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi kenakalan remaja yaitu menanamkan nilai-nilai moral dan hal itu dapat dimulai dalam rumah tangga dan dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Pembinaan tersebut bias dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik. Dan pembinaan itu harus dimulai dari orang tua baik perlakuan, pelayanannya kepada remaja memperlihatkan contoh teladan yang baik dan sebagainya
B. Saran – saran
1. Supaya orang tua banyak membaca buku tentang keagamaan agar dalam mendidik dan membina anak tidak mengalami kesulitan.
2. Meningkatkan pembinaan moral terhadap remaja melalui pembinaan tentang keagamaan yang dilakukan orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama dan pemerintahan dimasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Yunan. 1986, Bunga Rampai Ajaran Islam Jakarta, Dewan Da’wah Islamiyah
Daradjat, Zakiah.Dr, 1977, Membina Nilai-nilai moral di Indonesia Jakarta, Bulan Bintang
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Satu masalah sosial/kemasyarakatan yang harus mendapat perhatian kita bersama dan perlu ditanggulangi ialah tentang kemerosotan akhlak atau dekadensi moral.
Di samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan remaja-remaja pada waktu yang akhir-akhir ini dan pembinaan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pelajar dan mahasiswa, kita melihat pula arus kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita, yang lebih terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan remaja putrid dan lain sebagainya.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh kerena itu persoalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan dikalangan remaja.
B.Permasalahan
Dari uraian singkat tersebut diatas maka muncul beberapa persolan yang tentnya sangat menarik sekali untuk dibahas demi mencari titik temu permasalahan, persoalan tersebut dirangkum dalam beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
A.) Apa faktor yang melatar belakangi kenakalan remaja ?
B.) Apa akibat yang ditimbulkan dari kenakalan remaja tersebut ?
C.) Bagaimana upaya penaggulangannya ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.) Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja.
Ula para dara muda yang masih dalam tarap pencarian jati diri sering sekali mngusik ketenangan orang lain, kenakalan-kenakalan ringan dan mengganggu ketentraman lingkungan sekitar yaitu seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lain, dan kesemuanya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya.
Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja adalah sebagai berikut bagai berikut :
a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang,
b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan
c. Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya.
1). Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja.
Dr. Kartini Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain :
1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.
2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja menjadi tidak terpenuhi. Keinginan dan harapan anak–anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
3. Anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup normal. Mereka tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol-diri yang baik.
Maka dengan demikian perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2). Minimnya pemahaman tentang keagamaan.
Di dalam kehidupan berkeluarga kurangnya pembinaan agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
Dalam pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik. Maka pembinaan moral harus dimulai dari orang tua baik perlakuan, pelayanannya kepada remaja dapat memperlihatkan contoh teladan yang baik melaksanakan shalat dan sebagainya yang merupakan hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif karena apa yang diperoleh dalam rumah tangganya akan dibawa kelingkungan masyarakat. Oleh karena itu pembinaan moral dan agama dalam keluarga penting sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka dari kenakalan dan merupakan cara untuk mempersiapkan hari depan generasi yang akan datang, sebab kesalahan dalam pembinaan moral akan berakibat negatif terhadap remaja itu sendiri.
Sebenarnya pemahaman tentang agama sebaiknya dilakukan semenjak kecil, yaitu melalui kedua orang tua dengan cara memberikan pembinaan moral dan bimbingan tentang keagamaan, agar nantinya setelah mereka remaja bisa memilah baik buruk perbuatan yang ingin mereka lakukan sesuatu di setiap harinya.
Dalam masyarakat sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu menjadi tertinggal dibelakang. Dan didalam masyarakat yang telah terlalu jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi. Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan – perbuatan orang dewasa yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja sehingga berdampak timbulnya kenakalan remaja.
Kekurangan spiritual termasuk ketidak pahaman secara utuh tentang ajaran Islam sehingga mereka melakukan apa saja yang menjadi keinginan serta kemauan mereka.
3). Pengaruh dari pada lingkungan sekitar, pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat, pergaulan dengan teman sebayanya yang mana sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagai mana kita ketahui bahwa para remaja sangat senag dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya. Karena dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya.
2.) Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja
Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja ada 3 antara lain :
a. Bagi diri remaja itu sendiri
b. Bagi keluarga
c. Bagi lingkungan masyarakat.
1). Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari kenakalan yang dia lakukan akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Kenakalan yang dilakukan yang dampaknya bagi fisik yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena karena gaya hidup yang tidak teratur. Sedangkan dalam segi mental maka pelaku kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada memtal-mental yang lembek, berfikirnya tidak stabil dan keperibadiannya akan terus menyimpang dari segi moral dan endingnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama tidak ada yang mengarahkan.
2). Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan tentunya ini sangat tidak baik, Sehingga mengakibatkan anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya.
3). Bagi lingkungan masyarakat
Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya remaja sering bertemu orang dewasa atau para orang tua, baik itu ditempat ibadah ataupun ditempat lainnya, yang mana nantinya apapun yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum remaja. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan dampaknya akan buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.
Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Tindakan penanggulangan masalah kebakalan dapat di bagi dalam:
3.) Menanggulangi masalah kenakalan remaja
A. Tindakan Preventif
Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum.
1. Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
2. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.
3. Usaha pembinaan remaja :
a. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya
b. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.
c. Menyediakan sarana-sarana dan meciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
d. Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.
Dengan usaha pembinaan yang terarah para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimabnagn diri akan dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi. Pikiran yang sehat akan mengarahkan mereka ke perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.
Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus
Dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkahlaku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya.
Sarana pendidikan lainya mengambil peranan penting dalam pembentukan pribadi yang wajar dengan mental yang sehat dan kuat. Misalnya kepramukaan, dan yang lainnya.
Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkahlaku remaja di rumah dan di sekolah.
Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:
a. Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
b. Penyesuaiam diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
c. Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yag dilakukan dengan dua pendekatan:
1. Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada si remaja itui sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan si remaja danmembantu mengatasinya.
2. Pendekatan melalui kelompok di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:
a. Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
b. Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingklaku baik dan merangsang hubungan sosia; yang baik.
c. Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukaka pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.
d. Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok dipupuk solidaritas dan persekutuan denga Pembimbing.
B. Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.
a. Di rumah, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.
b. Di sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru san staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergabtung dari macam pelanggaran tata tertib sekolah yang digariskan.
C. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkahlaku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat badani dan rohani, teguh dalam kepercayaan dan iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Diantara penyebab terjadinya Kenakalan remaja adalah karena faktor kurangnya perhatian dan kasih sayang dari pihak keluarga, pemahaman tentang agama dan pembinaan tentang keagamaan serta pengaruh pergaulan dengan lingkungan sekitar yang meliputi berupa budaya dari barat, awalnya Cuma mencoba malah terjerumus di dalamnya.
2. Dan akibat yang ditimbulkan kenakalan remaja bagi diri sendiri sangat berpengaruh pada psikologi remaja itu sendiri, dan bagi keluarga para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang dari ajaran agama jangan langsung main fisik dampaknya akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan itu semua akan berdampak negatif dan kurang baik bagi remaja itu sendiri baik bagi dirinya, keluarga maupun lingkungan sekitarnya berada. Serta bagi masyarakat sekitar menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek Dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan untuk berubah kejalan yang lebih baik.
3. Adapun upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menanggulangi kenakalan remaja yaitu menanamkan nilai-nilai moral dan hal itu dapat dimulai dalam rumah tangga dan dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Pembinaan tersebut bias dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik. Dan pembinaan itu harus dimulai dari orang tua baik perlakuan, pelayanannya kepada remaja memperlihatkan contoh teladan yang baik dan sebagainya
B. Saran – saran
1. Supaya orang tua banyak membaca buku tentang keagamaan agar dalam mendidik dan membina anak tidak mengalami kesulitan.
2. Meningkatkan pembinaan moral terhadap remaja melalui pembinaan tentang keagamaan yang dilakukan orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama dan pemerintahan dimasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Yunan. 1986, Bunga Rampai Ajaran Islam Jakarta, Dewan Da’wah Islamiyah
Daradjat, Zakiah.Dr, 1977, Membina Nilai-nilai moral di Indonesia Jakarta, Bulan Bintang
Langganan:
Postingan (Atom)